Indonesia, Jawa Tengah, Semarang, Travel, Wisata

Berkenalan dengan Mranggen, Kampung Ragam Warna yang Bikin Jatuh Cinta!

Gelap telah menyergap ketika kami beranjak dari Jalan Raya Timur Kaliwungu, memasuki jalanan desa yang tak lebar, menanjak, dan remang-remang. Meski raga sudah mulai kehilangan daya, lesu telah membalut bahu, namun ada sukacita yang bertunas di dalam diri, tak sabar ingin segera berkelana di Kampung Ragam Warna Mranggen, kecamatan Kaliwungu, kabupaten Kendal.

Buncah kegembiraan itu sempat sesaat menguap ketika salah satu rekan blogger berkata, “Waduh, nggak ada sinyal.” Syukurlah, ketika kami mulai mendekati kampung Mranggen, kami kembali bertemu peradaban yang lebih semarak. Sinyal 4G atau HSDPA pun beringsut menguat, melengkapi kami para pekerja digital kreatif yang tak akan mampu bertugas secara paripurna tanpa koneksi dunia maya.

Kami tiba di sebuah tanah lapang, tempat di mana kami harus turun dari kenyamanan minibus berpendingin udara. Sesaat setelah memijak tanah dan mengamati keadaan, kami sadar bahwa tanah lapang ini berada tepat di depan sebuah komplek makam yang menjadi destinasi religi Kaliwungu. Dari tanah lapang yang difungsikan sebagai lahan parkir tersebut, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jalan yang menurun.

Difoto oleh: kak Titiw

Ya, inilah tujuan utama kami dalam rangkaian familiarization trip (famtrip) yang diselenggarakan oleh Pacific Paint, salah satu produsen dan distributor produk cat terkemuka di Indonesia. Setelah kesepuluh blogger dan vlogger mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, kami diajak berkeliling kota Semarang dulu bersama panitia dan tim dari Pacific Paint. Agenda berkeliling kota Semarang pun ditutup dengan kunjungan ke klenteng Sam Poo Kong, setelah sebelumnya menyambangi Soto Ayam Pak Man, Kota Lama, Gang Lombok, dan Lawang Sewu di bawah terpaan cahaya matahari Semarang yang terlalu kuat. Cerita berkeliling Semarang tersebut akan aku tuturkan dalam tulisan terpisah.

Baca Juga: Terpesona dengan Pagoda Avalokitesvara Semarang

 

Cara Menuju Kampung Ragam Warna Mranggen dengan Transportasi Umum

Sebelum aku menceritakan perjalananku di Kampung Ragam Warna Mranggen lebih lanjut, ada baiknya aku bagikan dulu informasi mengenai aksesibilitas transportasi ini.

Cara paling nyaman menuju Mranggen adalah dengan kendaraan pribadi, kendaraan sewaan, atau taksi online. Tapi untuk untukmu yang rindu bertualang sekaligus memangkas biaya transportasi, opsi angkutan umum juga tersedia. Dari Semarang, carilah bus menuju Pasar Sore Kaliwungu. Dari Pasar Sore tersebut, kau bisa melanjutkan perjalanan dengan ojek seharga Rp10.000 saja.

Rute dari Terminal Mangkang Semarang menuju Kampung Ragam Warna Mranggen

Kalau ternyata angkutan yang kau naiki hanya berhenti di Terminal Mangkang, dari situ kau bisa naik angkot menuju Pasar Sore Kaliwungu dengan ongkos Rp5.000, lanjutkan dengan ojek seperti di atas.

 

Menginap di Kampung Ragam Warna Mranggen

Terletak jauh dari hingar bingar kota besar membuat Mranggen menjadi pelarian cepat dari riuhnya Semarang. Suasananya tenang, berdiri di kawasan perbukitan di mana kita dapat melihat Laut Jawa di kejauhan sana saat cuaca cerah.

Kesepuluh blogger / vlogger ini, atau kesebelas blogger / vlogger jika mas Yusman “Umen” (blogger sekaligus panitia) diikutsertakan, lantas dibagi ke dalam 4 rumah penduduk. Kami bersebelas terdiri dari bli Putu Aditya Nugraha @commaditya, mas @dwikaputra, mas @wiranurmansyah, kak @lindaleenk, kak Rere @atemalem, mbak Terry @negerikitasendiri, kak Titiw Akmar @travelmom.id, Albert Ghana Pratama @albert_na, mbak Indri Juwono @miss_almayra, dan aku sendiri. Sungguh sebuah kombinasi yang cukup beragam.

Berdiskusi bersama mudi-mudi setempat
Blogger dan vlogger berkenalan dengan mudi-mudi Mranggen
Para gadis yang tak terlalu banyak berbicara, namun tetap menyimak

Aku berada 1 kamar bersama mas Adit, mas Dwika, dan mas Umen, sementara Ghana dan mas Wira tinggal di rumah warga lainnya. Hawa Mranggen yang hangat kami netralkan dengan menyalakan kipas angin di dalam kamar. Fasilitas MCK-nya bersih kok, kamar mandi dan toilet berada dalam bilik terpisah, seperti yang lazim kita temukan dalam tata ruang rumah-rumah pedesaan di Jawa.

Selama menjalani rangkaian kegiatan ini, kami sudah disediakan sarapan, makan siang, dan makan malam oleh warga di Mranggen Gallery. Tapi keluarga di rumah yang kami inapi ini kelewatan baiknya! Esok paginya, 4 gelas teh manis panas sudah tersaji rapi di atas meja, bersanding dengan beberapa jajanan pasar seperti galundeng, klepon, dan kreker. Sore harinya, saat aku kembali ke rumah untuk berkemas, sudah ada lagi 4 gelas teh manis panas dan jajanan pasar yang baru. Baik bangeeettt! Keramahan dan ketulusan seperti inilah yang membuatku suka menginap bersama warga lokal.

Hasil masakan warga Mranggen yang menggugah selera!
Jajanan pasar yang menyambut pagiku di rumah warga
Blogger dan vlogger berkumpul di Mranggen Gallery
Buah-buah segar penetral rasa
Gorengan desa yang nikmaaattt banget!

Paket lengkap seperti ini juga dapat kau nikmati dengan harga yang sebanding dengan pengalaman yang kau dapat. Selain penginapan 1 malam dan makan (pagi, siang, malam), paket juga sudah termasuk cinderamata dan workshop membuat payung tradisional. Kalau tertarik, kau dapat menghubungi ibu Wiwik Wijaya di akun Instagram @wiwikwwijaya untuk nanti diberikan personal contact, atau bisa juga melalui aku dulu di seluruh kanal media sosial @Nugisuke atau email.

 

Apa Saja yang Bisa Dilakukan di Kampung Ragam Warna Mranggen?

Obyek wisata serupa Kampung Ragam Warna Mranggen ini memang sudah jamak ditemukan di Indonesia. Entah siapa pelopornya, namun destinasi seperti ini dapat kau temukan di kampung Jodipan Malang, kampung Code Yogyakarta, Kampung Pelangi Semarang, kampung Bekelir Tangerang, kampung Katulampa Bogor, bahkan di Bekasi pun sudah ada — kampung Rawa Bambu. Ada lagi kampung warna yang terlewat?

Tapi, seperti yang sudah kusinggung sebelumnya di atas, Kampung Ragam Warna Mranggen tak hanya menawarkan obyek yang memanjakan mata untuk diabadikan dalam kotak kamera, lalu setelah itu ditinggalkan begitu saja. Seperti namanya, Ragam Warna, beragam kegiatan dapat kamu lakukan di Mranggen. Mulai dari menikmati santapan desa yang lezat, berinteraksi dengan warga setempat, mampir di Mranggen Gallery, melakukan workshop membuat payung tradisional, ziarah makam, sampai menikmati panorama sunrise dari gardu pandang.

Kalau kamu hanya tertarik dengan workshop tanpa menginap, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp375.000, sudah termasuk makan siang.

Payung tradisional Mranggen dalam pementasan Tari Payung
Workshop membuat payung
(selfie diambil dari kamera mas Dwika)

Ada beberapa spot berfoto yang tak boleh kau lewatkan di sini. Saat memasuki area Kampung Ragam Warna Mranggen, kau akan melalui jalanan menurun dengan dinding beton berundak di sisi kanan yang dipoles dengan warna-warna cerah. Inilah spot foto pertama yang ikonik di Kampung Ragam Warna Mranggen. Teruslah menuruni jalan, lalu beloklah ke kiri. Lanjutkan langkahmu hingga melalui jalan setapak yang menurun, atau yang dinamakan Jalan-in Aja Dulu oleh warga setempat. Di ujung turunan, kau akan menemui papan nama Jalan Bareng Aku Kapan.

(((tiba-tiba aku merasa tersodok)))

Di situlah kau akan menemukan gapura warna-warni, hati warna-warni (dilengkapi atribut berfoto berupa papan kayu dengan tulisan tertentu), dan pojok cinderamata. Kalau sudah puas berfoto di situ, bangkitkan lagi semangatmu untuk berjalan naik kembali ke pertigaan Jalan-in Aja Dulu. Ambil arah kiri, terus berjalan sampai melalui Mranggen Gallery di sisi kanan. Selain bisa berfoto, ada perpustakaan kecil juga di galeri itu. Jalanan menurun yang diapit oleh rumah warna-warni ini juga elok untuk dijadikan spot foto berikutnya. Jangan lupa haturkan salam hangat, senyum simpul, atau anggukan penuh makna (((anggukan penuh makna))) ketika berpapasan dengan warga lokal.

Dinding berundak Kampung Ragam Warna Mranggen
Poskamling warna-warni Kampung Ragam Warna Mranggen
Jalan-nin Aja Dulu, hehe
Sumur dan kamar mandi umum yang fotogenik
Jalan bareng aku kapan?

Terus ayunkan langkahmu menjalani takdir kehidupan sampai bertemu pertigaan (menthok), lalu ambil arah kanan. Di sisi kiri, kamu akan menemui kamar mandi umum yang cantik penuh warna dan mural bertuliskan Kampung Ragam Warna yang khas. Kalau aku boleh memberi saran (kalau nggak boleh ya udah), datanglah ke Kampung Ragam Warna Mranggen dengan mengenakan baju bernuansa monokromatik — hitam, putih, atau abu-abu — supaya warna bajumu tak saling bertubrukan dengan warna-warna berani di kampung Mranggen. Tubrukan itu sakit tau.

 

Peresmian Kampung Ragam Warna Mranggen

Belum tuntas kami melepas lelah di rumah warga, kami sudah harus berkumpul di Mranggen Gallery untuk bersantap malam. Rasa letih setelah berjalan di atas medan menanjak pun sirna setelah melihat sendiri apa yang sudah disajikan untuk kami. Beragam masakan olahan desa yang terdiri dari daging ayam, bakmi, dan sayur sudah tersaji di tengah ruangan, didampingi dengan gorengan dan buah-buahan.

Semangat yang sedang meredup pun berhasil dihidupkan kembali setelah diisi “bahan bakar” hingga penuh. Saking penuhnya, aku sampai agak sesak nafas karena kekenyangan dan harus duduk-duduk dulu beberapa saat sebelum bisa berjalan kembali.

Malam itu, Kampung Ragam Warna Mranggen meriah dengan kegiatan pentas seni di lapangan. Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur Pacific Paint Bapak Suryanto Tjokrosantoso, Corporate Head Marketing Pacific Paint Bapak Ricky Soesanto, Anggota DPR RI komisi X (yang asli Kaliwungu) Drs. A.H. Mujib Rohmat, serta ibu Wiwik Wijaya dan Bambang Yogi yang merupakan konseptor Kampung Ragam Warna Mranggen. Tak perlu menunggu lama untuk kami kemudian menikmati pementasan Drum Blek Melo (featuring Tari Payung) dan dilanjutkan Orkes Malaya sampai dini hari, hihihi.

Drum Blek ini merupakan plesetan daru Drum Band (istilah orang Jawa untuk menyebut marching band). “Blek” adalah bahasa Jawa yang berarti wadah berbahan logam, wadah bekas K**ng Guan misalnya. Dinamakan Drum Blek, karena marching band kreasi warga Mranggen ini menggunakan alat-alat sederhana yang biasa ditemui di sekitar rumah dengan suara yang nyaring seperti “blek”.

Mas Anjar (kedua dari kiri), bu Wiwik (jilbab pink), Pak Suryanto (berkacamata), Pak Ricky (ketiga dari kanan), dan kedua MC
Para pemain DrumBlek Melo
Atraksi DrumBlek di Rabu pagi
Pertunjukkan Tari Payung

Aku cukup salut dengan sepasang muda-mudi desa yang bertugas membawakan acara, khususnya kepada sang MC laki-laki. Artikulasinya bagus, intonasi suaranya sukses menggerakkan penonton tak ubahnya para MC di kota-kota besar. Jujur, aku tak menyangka ternyata kampung Mranggen memiliki bibit-bibit unggul dengan talenta yang beragam!

 

Badan yang letih, kurang tidur (aku harus bangun jam 4 pagi kemarin Selasa), ditambah ketiadaan dorongan dari rekan sekamar membuatku pasrah di atas kasur sampai sekitar jam 7:30 pagi. Setelah mandi secepat mungkin, aku dan 3 pemuda tanggung lainnya bergegas ke Mranggen Gallery untuk sarapan dan bergabung bersama peserta lainnya yang sudah siap siaga dari puluhan menit yang lalu. Seperti makan malam, menu sarapan pun berlimpah ruah. Aku yang sudah sarapan dari rumah warga lokal pun tak kuasa menahan keinginan untuk mencicipi beberapa suapnya.

Kampung Ragam Warna Mranggen tampil semarak pagi itu. Di salah satu ruas jalannya, atraksi Drum Blek kembali ditampilkan oleh para pemainnya yang mengenakan blangkon dan baju lurik. Warga desa berkerumun di sekitar mereka. Anak-anak TK berbaris di salah satu sisi mengenakan seragam dan membawa bendera-bendera kecil. Mereka menyambut kedatangan sang bupati, Ibu Mirna Annisa, yang tampil bersahaja dengan setelan baju putih dan bawahan hitam. Di luar ekspektasiku, Bupati Kendal ini rupanya masih cukup muda, mungkin di kisaran 30-an, parasnya rupawan dalam bingkai hijab hitam yang dikenakannya.

Hari itu, 9 Mei 2018, adalah peresmian Kampung Ragam Warna Mranggen. Kami kemudian berkumpul di lapangan desa seperti semalam. Sebagian duduk, sebagian lagi berdiri. Air mineral dan makanan ringan didistribusikan ke berbagai penjuru untuk memanjakan setiap warga.

Dalam kesempatan ini, Bapak Suryanto Tjokrosantoso, membuka rangkaian sambutan dengan mengungkapkan, “Kami tidak salah memilih Mranggen, karena hasilnya luar biasa di luar ekspektasi!” Aku setuju dengan beliau. Tak hanya bagian dinding, bagian atap dan jalan-jalan Kampung Ragam Warna Mranggen tak luput dari polesan warna. Warna-warna itu lalu dipadukan dengan kreativitas (nama-nama jalan, misalnya) dan kearifan lokal sehingga membuatnya lebih dari sekedar kampung warna-warni.

Bapak Suryanto Tjokrosantoso dan Bapak Ricky Soesanto
Peresmian Kampung Ragam Warna Mranggen
Bapak Suryanto melayani awak media

Tak hanya memberikan apresiasi, Bapak H. Mujib Rohmat pun menyampaikan sebuah wejangan dalam sambutannya kepada masyarakat Mranggen. “Faktor penariknya sudah ada, yang mempromosikan sudah ada, tinggal apa yang akan mengikat — yaitu kenangan,” tegasnya. Betul kata beliau. Ibarat sebuah rumah makan yang sudah dipromosikan besar-besaran saat pembukaan, ia tak akan mampu menjaga loyalitas konsumen bila ia tidak menciptakan satu kesan tersendiri ketika orang bersantap di dalamnya. Aku optimis Kampung Ragam Warna Mranggen akan mampu terus menarik minat pengunjung. Keramahan penduduknya, kelezatan santapannya, dan kehadiran workshop payung tradisional telah menorehkan kesan mendalam.

Terakhir, ada sambutan dari Bupati Mirna Annisa yang memuji kreativitas dan ketekunan warga Kampung Ragam Warna Mranggen. “Keinginan masyarakat untuk tumbuh secara swadaya bukan sesuatu yang sering ditemui,” tuturnya. Namun di Mranggen, ia menemukan semangat itu dan ia bangga terhadap hal itu. Bersama dengan Pak Suryanto, Pak Ricky, Pak Mujib, dan ibu Wiwik, bu Mirna menutup sambutannya dengan memukul gong dan prosesi potong tumpeng sebagai simbolisasi peresmian Kampung Ragam Warna Mranggen.

Bapak H. Mujib Rohmat
Ibu Mirna menyimak sambutan
Ibu Mirna Annisa memberikan sambutannya
Ibu Mirna bersalaman dengan Bapak Suryanto dan Bapak Ricky
Foto bersama setelah proses peresmian

Kampung Ragam Warna Mranggen adalah sebuah wujud ekspresi seni yang diimplementasikan melalui kehidupan sosial budaya masyarakat yang harmonis. Proses pengecatan rumah-rumah warga di kampung Mranggen sudah dimulai sejak Desember 2017 yang diawali dengan kegiatan sosialisasi. Setiap 2 minggu, sekitar 12-15 rumah yang sudah dicat akan dievaluasi. Mas Anjar, salah satu aktivitas muda kampung Mranggen menjelaskan hal tersebut kepada kami saat sesi diskusi di Mranggen Gallery usai acara peresmian.

Lalu kenapa masyarakat Mranggen mengecat kampung mereka dengan warna-warni? Sekedar ikut-ikutan daerah lain?

Komplek pemakaman dan halaman parkir
Pemandangan dari gardu pandang
Kampung Ragam Warna Mranggen tercipta dengan dukungan Pacific Paint Indonesia
Spanduk selamat datang di Kampung Ragam Warna Mranggen

Masyarakat Mranggen adalah potret masyarakat Indonesia yang siap dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan kebudayaan lokal mereka. Kendal hanyalah sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah yang biasanya hanya menjadi perlintasan untuk mereka yang menuju Semarang. Dulu, ada 2 pabrik besar yang ada di wilayah Kendal yang menjadi tempat mencari nafkah sebagian warga Kendal, Kayu Lapis Indonesia dan Texmaco, yang kini sudah tutup. Pariwisata merupakan sektor yang kemudian dibidik, karena di sektor inilah seluruh lapisan masyarakat dapat dilibatkan bersama.

Kampung Ragam Warna merupakan wadah masyarakat Mranggen untuk meluapkan ekspresi seni mereka dalam semangat kebersamaan. Keterbatasan biaya tidak menghambat langkahnya. Mereka membawa semangat kreativitas dan guyub rukun kepada Pacific Paint Indonesia.

foto selfie oleh mas Dwika

Di masa mendatang, pelabuhan besar dan sentra industri penanaman modal asing juga akan hadir di Kendal. Ketika aku melintasi Kendal dalam perjalanan mudik ke Yogyakarta beberapa tahun lalu, aku memang melihat pembangunan kawasan industri. Mranggen bersiap menyambut kedua megaproyek tersebut dengan Kampung Ragam Warna. Sehingga ketika nanti Kendal sudah semakin maju dengan pembangunan dan semakin banyak dikunjungi orang, Kendal akan menjadi lebih dari sekedar tempat untuk berbisnis, namun juga meninggalkan impresi seni nan membekas di hati.

Terlalu singkat untuk menuliskan seluruh perjalanan dan pengalamanku di Kampung Ragam Warna Mranggen. Ada terlalu banyak hal untuk dikisahkan, terlalu banyak ilmu untuk dibagikan, dan terlalu banyak foto untuk dipamerkan (eh). Jika nanti kau bertandang ke Semarang, sediakan waktu untuk bertamu ke Mranggen. Entah sekadar mampir barang 1-2 jam, atau bermalam hingga fajar menjelang, Mranggen akan menyambutmu dengan ragam warna yang melekat di jiwa, tak lekang oleh usia.

Iklan

79 tanggapan untuk “Berkenalan dengan Mranggen, Kampung Ragam Warna yang Bikin Jatuh Cinta!”

  1. Jadi teringat saat tahun lalu ke Desa Wisata Bejalen, Ambarawa, selain mengandalkan wisata swafoto, juga mencoba mengangkat kearifan lokal di sana. Namun sepertinya ada yang kurang berjalan sesuai rencana, dan sekarang sudah mulai sepi.

  2. Memang kampung warna ada di beberapa tempat. Tapi, Mranggen punya daya pikat lain. Workshop, menginap, dan pertunjukan oleh muda-mudi ini sesuatu yang menarik.

    Ini akan jadi pilihan saya kalau ke Semarang lagi.

  3. Wah seru banget ikut famtrip ini. Belum pernah ke Mranggen, baru sampe ke Kampung Pelangi Semarang. Yg seru di Mranggen ada aktivitas ya. Penasaran pengen nyobain ngelukis payung

  4. Bagus ya idenya.. bisa juga dicontoh sama desa2 lain.. ga harus jadi desa warna-warni, yg penting bisa menyajikan kearifan lokal n pengalaman unik yg akhirnya meningkatkan ekonomi di desa tsb…

    1. Kalo kamu baca setiap tulisanku, kamu akan sadar bahwa aku nggak selalu nulis dengan kata ganti “gue” hehe. Tergantung kesan apa yg ingin ditampilkan ke pembaca.

      Kesan fun, atau kontemplatif 😀
      Semoga tetep cocok ya

  5. Saya baru tahu ada kampung warna ini, kegiatannya sangat bermanfaat buat penduduk setempat juga (workshopnya), apalagi ada blogger dan vlogger, pas buat di promosiin juga biar semakin populer dan menambah value bagi masyarakatnya

  6. Ada banyak tantangan dalam mengurusi desa seperti ini. Jika hanya mengandalkan spot swafoto dan kearifan lokal yang tidak digarap benar-benar. Takutnya seperti kampung pelangi sebelah (dekat rawa pening).

  7. Dari kelima hal apa saja yang bisa dilakukan di kampung ragam warna Mranggen … semuanya menarik menurutku.
    Wisatawan ngga cuman sekedar disuguhi polesan warna warni bangunan saja tapi juga ada kesenian rutin diadakan disana ..

  8. Kalau udah ngomongin kampung warna warni gini, jadi teringat kampung warna warni yang di Jogja, Malang dan yang lainnya. Setiap kota terkadang ada yang punya kampung seperiti ini ya, Mas. Hanya saja setiap kampung mempunyai keunikannya tersendiri.

    Dan kampung ragam warna mranggen ini saya belum pernah, tapi baca dan lihat fotonya seru juga ya, Mas. Suasana apapun akan terasa berwarna akan suasananya ya..hehe

    Gimana, Mas, udah otw movenya..wkwk

    Oh, ya, itu makanan boleh aku ambil nggak, buat buka puasa nanti, Mas 😀

  9. Hahahah, jalan-in aja dulu, jl. Bareng aku kapan? Wkwkwk
    Aku liat masyaraktnya bener2 semangat, siap menerima perkembangan zaman tanpa menghilangkan budaya.. Kapan hari kl ke semarang ku coba mampir ah

  10. Terlepas dari pro kontra rumah cat warna-warni gini ya, gue sih ngambil positifnya aja. Dengan adanya sponsor yang mau mendandani kampung, bisa mendatangkan rezeki tambahan lain bagi warganya. Enaknya kalau nginap di rumah warga tuh jadi berasa banget kekeluargaannya, disuguhi makanan rumah yang enak pula.

      1. pernah lewat Mranggen kayaknya gak ada yg menarik perhatian kecuali pasarnya yg bikin macet itu, kalo kesini lagi boleh deh diagendakan…. kirain cuma di salatiga, boyolali, magelang aja yg ada drumblek 😉

  11. Memang seru! Jika saja seluruh kampung-kampung padat di Indonesia, tapi jangan Kampung tradisional ya, dicat warna-warni seperti ini, Saya yakin akan menaikkan indeks kebahagiaan masyarakat. Setidaknya penduduknya. Warna-warna cerah kan juga sanggup mengangkat mood manusia

    1. Ada yang udah dipilih sama agensi atau pemerintah, ada juga yg open mbak. Tapi nanti terus diseleksi. Intinya sebagai blogger harus bangun jaringan hehe.

      Kalau untuk kegiatan ini, panitianya udah punya daftar blogger / vlogger buat diundang.

  12. makin banyak wisata kampung warna ya.. gak apa apa sih.. wong di perumahan juga ya… bagus si buat foto foto…. tapi kalo di alam yang diwarna2i itu lo yang jengkelin….

    btw tadi kupikir abis ganti template mas…. dan menu komennya eror.. g bs komen. eh ternyata sinyal ga stabil. kudu direfresh.. (info penting banget)

  13. Wah, joss banget iku masyarakat/muda-mudi setempatnya..
    Memanfaatkan tenaga dan kreativitas mereka untuk menyulap kampungnya menjadi tempat menarik seperti itu..
    Nggak cuman secara fisik, tetapi dengan kegiatan kesenian juga…

    TFS gan… Semoga bisa segera main ke sana juga…

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.