Sebuah Perjuangan Panjang Menuju Penang

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 10

Kami berjalan keluar dari stasiun Kranji setelah sebelumnya mengembalikan STP Card di loket, dan dikejutkan dengan antrian calon penumpang yang memenuhi sepanjang teras stasiun dengan satu tujuan yang sama: Johor Bahru. Okay, this is breaking news. Parahnya lagi, antrian untuk bus Causeway Link adalah yang paling panjang, bok! Ternyata nggak cuma di Indonesia yang doyan tarif murah. Jadi tips buat kalian yang mau ke Johor Bahru dari Singapura, hindari jam-jam sibuk pada pagi dan malam hari (sekitar jam 19.00 sampai 21.00) karena pada jam-jam itulah para komuter Singapura – Johor Bahru menggencarkan aksinya. Nggak ada bedanya sama komuter Jabodetabek deh.

Syukurlah antrian terurai dengan cepat, karena bus Causeway Link memiliki interval kedatangan yang cukup rapat. Saat bertanya ke petugas bus yang nangkring di pinggir jalan, dia bilang tiket ke Johor Bahru adalah 0.8 SGD. Maka gue pun hanya memasukkan koin senilai 0.8 SGD yang gemerincing di dalam kotak pembayaran. Ternyata saat struk keluar, gue seharusnya membayar 1.3 SGD, karena tujuan gue adalah Terminal Bas Larkin. Lumayan bisa hemat 0.5 SGD, sopirnya juga nggak sadar.

Antrian panjang di depan stasiun Kranji

Antrian panjang di depan stasiun Kranji

Oh ya, selain dengan Causeway Link yang berwarna kuning ngejreng itu, kamu juga bisa menuju Johor Bahru dengan bus SMRT dan SBS Transit. Kayaknya lebih mahal sih, karena peminatnya jauh lebih sedikit. Naik dari depan stasiun Kranji, jangan dari stasiun Woodlands. Stasiun Woodlands masih jauh dari Woodlands Check Point, harus naik bus lagi.

Sempet khawatir harus berdiri uyel-uyelan di dalam bus dalam kondisi membawa keril seukuran 60L, tapi Puji Tuhan Alhamdulilah gue dan Aska masih kebagian tempat duduk. Lumayan meski harus tetep desek-desekan.

Sampai di Woodlands Check Point, kami turun bersama seluruh penumpang yang lain, berlari-lari kecil menuju Immigration sebelum akhirnya harus berlari-lari lagi menuju garasi untuk melanjutkan perjalanan dengan bus. Rempong banget, bro. Jadi inget dengan pengalaman yang sama tahun lalu. Sebagai informasi, kamu yang berencana bakal bekerja di Singapura tapi tinggal di Johor Bahru atau sejenisnya, ada semacam kartu khusus yang disediakan untuk komuter tingkat tinggi seperti itu. Ada loketnya sendiri di Immigration, tinggal main tap kartu dan habis perkara. Gue nggak tahu banyak, jadi coba googling aja ya.

Sampai di garasi, gue terkaget-kaget lagi melihat antrian super panjang para calon penumpang yang akan melanjutkan perjalanan. Gue sampai bingung di mana antrian untuk bus Causeway Link karena saking banyaknya. Lagi-lagi, antrian Causeway Link adalah yang paling panjang, memanjang berkelok-kelok hingga sekian puluh bahkan mencapai 100-an meter. Busnya ada di mana, ujung antriannya ada di mana. Kali ini gue dan Aska harus sedikit bersabar menunggu, karena bus datang dalam waktu yang agak lama.

Baru duduk sebentar menikmati perjalanan menyeberang selat, penumpang harus turun lagi saat tiba di Sultan Iskandar Complex Customs, check point-nya Johor Bahru. Antrian memanjang di setiap loket, baik yang khusus paspor Malaysia maupun yang All Passport. Aska yang tadinya ada di depan gue di antrian All Passport, malah pindah ke antrian sebelah. Dia salah paham dengan informasi yang tertera di papan petunjuk bagian atas, padahal jelas-jelas papan informasi yang ada di loket yang bersangkutan mengatakan bahwa ini adalah loket All Passport. Akhirnya, sementara gue bergerak maju dengan penuh kejayaan (mungkin karena banyak paspor Malaysia di antrian gue ini), dia tertinggal jauh di belakang. Saat gue menyelesaikan proses imigrasi, dia masih tertahan di antrian, dan baru menyusul beberapa menit kemudian. Lumayan lama sih nunggunya.

Wan Wan Emoticons 8

Kami lalu berjalan turun menuju garasi untuk mengejar bus. Sampai di garasi, antrian sudah terurai, hanya meninggalkan segelintir orang yang masih bertahan. Tak tampak bus Causeway Link satu pun. Gue bertanya pada seorang petugas (kayaknya kernet) untuk mengetahui di mana tempat untuk bus Causeway Link. Rupanya tempatnya ada di sisi lain garasi itu. Namun bahkan saat sudah mencapai tempat Causeway Link pun, kami nggak mendapati apapun selain sebuah peron kosong yang gelap. Saat itu sekitar jam 21.30. Setahu gue, bus ini ada sampai tengah malam, seperti yang tertera di papan informasi yang tadi gue lihat entah di mana. Namun di situ ada papan informasi lain yang mengatakan bus beroperasi sampai pukul 21.00, dan – Aska – panik.

Mencoba mengatasi kepanikan seorang first traveler, gue menghampiri seorang petugas untuk menanyakan adakah bus lain yang bisa kami naiki untuk menuju Terminal Larkin karena kami sudah kehabisan bus Causeway Link. Dia malah meminta gue menunjukkan tiket bus, lalu nyuruh gue untuk menunggu bus di situ. Ternyata benar, bus beroperasi hingga tengah malam, bahkan selalu ada — katanya. Yang sampai jam 21.00 itu cuma bus dari dan ke Senai Airport, bandaranya Johor Bahru. Gue lega bukan kepalang.

Akhirnya bus yang ditunggu pun datang juga. Para calon penumpang segera masuk ke dalam, gue menunjukkan tiket lebih dulu kepada pak sopir, tapi sebagian besar penumpang baru sih. Perjalanan menuju Terminal Larkin sendiri  tidak memerlukan waktu yang lama. Sebelum turun, gue mengkonfirmasikan dulu kepada pak sopir, takut turun sebelum waktunya.

Suasana Terminal Larkin — nggak ada bedanya sama terminal-terminal di Indonesia! Bus-bus berbagai jurusan berjajar di peronnya masing-masing, sementara calon penumpang memenuhi koridor menunggu kedatangan busnya. Gedungnya juga nggak bersih-bersih amat, gue rasa masih lebih baik Terminal Giwangan Yogyakarta atau Terminal Tirtonadi Solo. Agen-agen bus memiliki loketnya masing-masing, merayu penumpang-penumpang yang melintas di depannya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebelumnya, gue udah googling dan mendapatkan informasi bus-bus jurusan Butterworth, Penang, dari journeymalaysia. Bus-bus itu berangkat dari Terminal Larkin, Johor Bahru. Harga paling murah yang gue temukan adalah 23.8 RM, harga standarnya adalah 30-an RM. Sialnya, saat sudah berada di lapangan langsung, gue nggak menemukan satu pun tiket ke Butterworth yang masih ada. Entah tiketnya udah habis, atau memang nggak ada bus ke Butterworth dari Terminal Larkin. Nama Butterworth sih tertulis jelas di sebagian besar loket, tapi saat gue menghampiri satu loket ke loket yang lain dan seterusnya, gue nggak mendapatkan tiket menuju Butterworth.

Aska lalu mengusulkan untuk mengambil bus jurusan Kuala Lumpur lebih dulu, baru nanti mengambil bus jurusan Butterworth dari KL — seperti yang disarankan oleh salah satu agen. Harga bus menuju KL dari agen itu adalah 40 RM. Kok mahal banget? Berbeda jauh dari informasi yang gue dapat di internet. Kalau ke Butterworth cuma 30-an RM, kenapa ke KL aja bisa sampai 40 RM? Gue pun lalu memeriksa harga di agen bus yang lain, lagi-lagi hinggap dari satu loket ke loket yang lain.

“Ayo buruan nanti keburu tutup,” omel Aska panik.

“Iya ini juga lagi nyari!” balas gue dengan nada suara yang tajam. Dia nggak bisa lihat apa, gue juga lagi nyari-nyari tiket ke KL dan baru saja akan menghampiri sebuah loket. Gue nggak lagi duduk-duduk santai di medan selera, ‘kan?

Gue terpaksa mengambil tiket ke Kuala Lumpur seharga 40 RM itu untuk kami berdua. Bus berangkat pukul 01.00 dan akan sampai sekitar pukul 04.00 pagi. Masih ada waktu sekitar 3 jam lagi. Gue memutuskan untuk makan malam di medan selera (pujasera), sementara Aska hanya duduk menunggu di koridor. Menu makan malam gue saat itu adalah nasi lauk dari sebuah warung yang mirip warung padang, ditemani segelas Teh Tarik. Totalnya 8.5 RM, tergolong mahal karena memang lokasinya di terminal.

Penantian panjang di Terminal Larkin Johor Bahru yang panas dan lembab itu pun menemui akhir ceritanya. Bus kami datang, sesuai dengan plat nomor dan nomor peron yang diberikan petugas loket. Yang biasa naik bus patas, pasti udah nggak asing dengan metode seperti itu. Busnya bertipe double decker, dengan bagian bawah yang dikhususkan untuk bagasi atau meletakkan barang, jadi bukan di samping seperti bus-bus di Indonesia. Tapi interior di dalam hampir sama dengan bus-bus patas di Indonesia, AC-nya juga berfungsi dengan baik.

Selama perjalanan, gue tidur nyenyak dan terbangun beberapa saat sebelum bus berhenti di sebuah terminal megah. Aska terbangun tepat saat bus berhenti dengan kedua kelopak mata yang masih terasa berat. Kami turun dari bus, menaiki eskalator di sebuah terminal megah, modern, dan bersih, menuju loket bus di bagian atas. Gue terperangah dengan terminal bus yang kemegahannya menyamai, bahkan melebihi kemegahan bandara-bandara di Indonesia ini.

Namun saat tiba di lantai atas, di mana loket-loket bus berjajar di setiap sisi, gue nggak menemukan satu pun loket yang melayani jurusan Butterworth. Gue lalu menghampiri seorang petugas keamanan untuk menanyakan bisakah kami menuju Butterworth dari sini. Dia bilang nggak bisa. O’oh, we’re in trouble. Ini adalah Terminal Bersepadu Selatan, bukan Terminal Puduraya Sentral! Kami turun sebelum waktunya, dan SAKITNYA ‘TUH DI SINIII *pukul-pukul dada*

Wan Wan Emoticons 28

Petugas itu menyarankan untuk menunggu sampai jam setengah enam, untuk kemudian menuju Puduraya dengan LRT. Tapi gue dan Aska punya ide lain. Kami melongok ke bawah, melihat sebuah bus yang baru saja datang dan masih berhenti di garasi. Gue menghampiri kernet busnya dan bertanya apakah kami bisa numpang hingga ke Puduraya. Dia bilang bisa, tapi kami harus membayar sebesar 5 RM. Kami sepakat, gue dan Aska segera masuk ke dalam bus dan duduk di kursi yang kosong. Nggak enak ‘kan kalau duduk di pangkuan orang.

Terminal Bersepadu Selatan, source: travelfish.org

Sampai di Terminal Puduraya Sentral, hati gue mencelos lagi saat tahu bahwa terminal masih tutup! Seorang petugas berjaga di samping eskalator yang masih tersegel. Calon-calon penumpang duduk termangu di depan terminal, sebagian bahkan tidur ngampar di atas lantai — suasana yang juga sering gue temui di negeri sendiri. Terminal akhirnya dibuka sekitar pukul 05.00 pagi. Calon-calon penumpang berduyun-duyun menaiki eskalator yang masih belum dihidupkan. Sampai di atas, ternyata belum ada satu pun loket yang buka.

Baru beberapa menit kemudian, salah satu loket buka dan langsung diserbu oleh para calon penumpang. Gue menghampiri loket itu. Tiket menuju Butterworth ada pada jam 09.30 seharga 38.5 RM. Terlalu mahal dan terlalu siang, gue berlalu dari hadapan petugas loket yang kelihatan nggak suka karena gue cuma tanya doang. Beberapa loket kemudian buka, dan gue hampiri satu per satu. Dari loket Eks Kesatuan, gue mendapatkan bus ke Butterworth dengan tarif 35 RM jam 08.30. Mungkin memang standar tiket ke Penang segitu kali ya, 30-an RM, maka gue dan Aska pun sepakat untuk mengambilnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari loket Eks Kesatuan, kami diminta untuk mendapatkan nomor bus di loket Allisan Golden Coach.  Jadi, sistem di sini adalah, agen bus yang satu bisa saja melayani pembelian untuk agen bus yang lain. Bus kami adalah Haider Ekspres, yang sebenernya juga punya loket sendiri. Sambil menunggu kedatangan bus, gue menyempatkan diri untuk cuci muka – gosok gigi dan sarapan — sekerat roti yang gue bawa dari rumah dan sekotak Milo cokelat seharga 2 RM. Njir, entah udah berapa jam terbuang sia-sia untuk menunggu.

Terminal Puduraya Sentral ini juga bersih dan rapi kok, meski masih kalah dengan Terminal Bersepadu Selatan. Fasilitas penunjang kebutuhan perut cukup memadai, ada banyak warung dan gerai makan cepat saji. Dari lantai atas menuju garasi dihubungkan dengan beberapa tangga yang memiliki nomor masing-masing untuk peron. Nomor peron itu akan diberikan saat kamu mendapatkan tiket. Setiap tangga menuju peron dinaungi dengan sebuah ruang kaca kecil berbentuk seperempat lingkaran. Tekan tombol untuk membuka pintu, jangan harap pintunya akan terbuka sendiri saat kamu berdiri di depannya.

Wan Wan Emoticons 46

Pukul 08.30 bus sudah bertengger di peron 14, harusnya peron 15. Gue tahu kalau itu adalah bus kami dari nama bus dan plat nomornya. Sialnya, busnya nggak langsung jalan, baru jam 09.30 dia beringsut keluar dari terminal. Tidak seperti saat di Singapura di mana awan mendung selalu setia menggantung di bawah langit, cuaca Kuala Lumpur cerah sumringah pagi hari ini. Terik matahari semakin terasa saat bus melaju di luar kota Kuala Lumpur, di atas jalan tol dengan pemandangan kelapa sawit yang membosankan. Bus sempat berhenti di sebuah rest area, di mana gue bisa membeli pengganjal perut siang hari — sebungkus roti dan sebotol air minum seharga 4 RM — dari sebuah minimarket bernama Serasi. Kasirnya mas-mas Indonesia, kelihatan dari logat dan ungkapan, “Sebelah sini, bos!” yang dia lontarkan pada seorang pelanggan.

Kami sampai di Terminal Butterworth pada sore hari, gue lupa jam berapa tepatnya, setelah sebelumnya Aska sempat panik karena takut kami kebablasan sampai Alor Setar. Kepanikan itu terjadi saat bus berhenti di suatu tempat antah berantah, dan si kernet menyebut-nyebut kata “Penang”. Yah, gue memang belum pernah ke Butterworth, tapi seenggaknya gue tahu itu adalah sebuah terminal, dan tempat antah berantah itu jauh dari deskripsi sebuah terminal, apalagi lokasinya di pinggir jalan tol. Pemikiran logis gue diteguhkan dengan pernyataan si kernet yang meminta gue untuk tetap duduk setelah gue menanyakan apakah Butterworth turun di sini. Tapi Aska tetap panik, memperhatikan papan petunjuk jalan yang menginformasikan bahwa kami berjalan menuju Alor Setar dan seharusnya memutar jika ingin menuju Georgetown.

Cuaca Penang yang panas terik alaihim gambreng menyambut kami sore itu. Gue dan Aska berjalan cepat menghampiri sebuah warung makan, bertanya di mana letak pelabuhan untuk kami bisa menyeberang ke Georgetown dengan ferry. Pakcik itu menunjuk sebuah bangunan putih yang berjarak beberapa meter di depan sana. Gue dan Aska patuh dengan arah yang ditunjukkan.

“Beli tiket aja dulu yuk,” ajak gue dalam perjalanan menuju pelabuhan.

“Aku mau tanya temenku dulu,” sahut Aska.

Gue terdiam selama beberapa saat. Tingkat kepercayaan Aska terhadap gue semakin menurun dari hari pertama kami di Singapura. SAKITNYA ‘TUH DI SINIII! *pukul-pukul perut*

“Kapan mau tanya? Sekarang?” gue bertanya, yang tak dijawab dengan sepatah kata pun oleh Aska. Padahal, gue mengajaknya untuk membeli tiket ke KL sekarang untuk mengatasi bencana kehabisan tiket pada jam-jam terakhir. Tapi ya udah, gue nggak bilang apa-apa lagi, terserah dia aja maunya gimana.

Gue semakin nggak menikmati perjalanan ini.

Iklan

17 thoughts on “Sebuah Perjuangan Panjang Menuju Penang

  1. Huwikkkk referensi 23 ringgitnya ngacooo :p
    Johor Bahru ke Butterworth itu jauh, klo itung kasar 12 jam total perjalanan. orang Tiket KL-Penang dan sebaliknya paling murah itu 30-35 ringgit kok utk 6 jam perjalanan. masak 12 jam cuma 23 ringgit.

    Imigrasi JHB – Singapura memang ruame bingittt

  2. guys, mau nanya nich, kl dari larkir ke penang via bus, apa perlu memesan tiket bus terlebih dahulu? atau beli tiket pas uda nyampe di terminal larkin aja?

  3. Hai Saya Sandra, mau tanya apa setiap hari bisa refund STP di Stasiun Kranji. Soalnya terakhir saya tahu tidak bisa refund di Stasiun Kranji

    Thanks

  4. Haloo.. Permisi nanya dong bang
    Ferry yg nyebrang dr butterworth ke georgetown itu ada tiap jam apa gmn ya?
    Sya rencana naik bus malem dr melaka central k butterworth..
    Atw ad saran ga bang dr melaka ke penang enaknya naik apa? Hhee
    Terima kasih

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s