Gunung, Indonesia, Pantai, Travel, Wisata, Yogyakarta

5 Tempat Wisata di Jogja yang Instagrammable dan Anti-Mainstream!

pantai sadeng, gunungkidul

Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta berbenah. Gedung terminal ditambah, keduanya dihubungkan dengan jalur pedestrian berkanopi dan free shuttle car. Dari sekadar penambahan bangku di boarding room hingga reading corner, kids playground, free internet access, photo booth, sampai travelator pun dijabani PT Angkasa Pura 1 untuk meningkatkan kenyamanan calon penumpang dan mantan penumpang #eh.

Sebagai wong asli Jogja (meski banyak yang meragukan kejogjaan gue), gue bangga banget karena bandara kecil ini terhubung baik dengan pusat kota Jogja, bahkan dengan kota-kota di sekitarnya. Dari bandara, kamu tinggal sedikit berjalan kaki menuju halte bus TransJogja atau Stasiun Maguwo yang lokasinya persis di depan gedung bandara. Dari Stasiun Maguwo, bisa ambil kereta Prambanan Ekspres atau Solo Ekspres menuju Stasiun Yogyakarta, Purwosari-Balapan Solo, dan Kutoarjo. Dua kereta tersebut berfungsi seperti kereta komuter di Jabodetabek, jadi bukan kereta yang dibeli online jauh-jauh hari. Review-nya bisa dibaca di: Pengalaman Baru Naik Kereta Api Solo Ekspres

Moda pesawat terbang ini cocok buat kamu yang mau sekadar weekend getaway atau memanfaatkan long weekend ke Jogja. Bahkan kalo pun kamu “cuma” berangkat dari Jakarta atau Bandung yang notabene masih sepulau, pesawat terbang tetap worth the price karena saves your time and energy. Harganya nggak mahal-mahal amat kok, nggak beda jauh sama tiket kereta eksekutif, kecuali pas puncak liburan Idul Fitri atau akhir tahun yhaaa.

Gue cek di Pegipegi, tiket Jakarta-Jogja buat keberangkatan hari Kamis, 15 November 2018 cuma Rp378.000 aja lho! Tiket pulangnya buat hari Rabu, 21 November 2018 juga cuma Rp363.000. Berangkat pake penerbangan pagi-pagi, pulang pake penerbangan paling malem, puas-puasin dah di Jogja! Belum dipotong promo khusus yang lagi berlaku di Pegipegi. Tanggal 20-nya libur, jadi tinggal cuti 4 hari. Intinya, carilah penerbangan di hari anti-mainstream dan jadwal anti-mainstream.

tampilan awal Pegipegi
hasil pencarian tiket pesawat jakarta-jogja di Pegipegi
hasil pencarian tiket pesawat jogja-jakarta di Pegipegi

Nah, buat kamu yang udah planning mau liburan di Jogja, 3 tempat wisata baru instagrammable yang gue kunjungi di libur Natal 2017 dan libur lebaran 2017 kemarin bisa jadi bahan wacana kamu sama sobat-sobat proletarmu. Kuy, cekidot!


Mercusuar Pantai Pandansari, Bantul

Sebelumnya, gue sama sekali nggak tau kalo Jogja juga punya mercusuar, secara Jogja itu nggak punya pelabuhan, juga nggak pernah denger sejarah Jogja sebagai kota pelabuhan masa lampau. Sampai akhirnya, saat mampir ke blog-nya mas Nasirullah Sitam, gue sadar ternyata selama ini aqu salah! Ada sebuah mercusuar yang sampai sekarang masih boleh dikunjungi di Pantai Pandansari, kecamatan Samas, kabupaten Bantul.

View this post on Instagram

Jadi, kemarin aku sama @bayukurniawan18 main ke Pantai Pandansari, kab. Bantul, yang berada satu garis pantai sama Pantai Samas, Pantai Goa Cemara, dan Pantai Kwaru. Tujuan kami ke pantai ini cuma satu dan hanya satu (opo sih): naik ke mercusuar. Baru tau di Jogja ada mercusuar? Sama sih. Kami berangkat sekitar jam 8 pagi dari rumahku di kawasan Kadipiro, Ngestiharjo. Perjalanan berlangsung lancar tanpa macet sikit pun. Sampai sana, ternyata penjaganya sedang pergi dan nggak nitipin kunci mercusuar ke istrinya (atau siapalah itu) yang jagain komplek. Yowis, kami main ke Gereja Ganjuran dulu. Jam 11 balik lagi ke sini, eh masih belom balik dong bapak penjaganya. Lalu ngopi-ngopi dulu di pinggir pantai terus dicek lagi, belom balik pun. Akhirnya daripada dongkol, kami masuk aja ke dalam komplek buat foto-foto di luar mercusuar. Lumayan buat pengobat kegondhukan yekan? . . #thetravelearn #photography #photographyislife #photographyart #photographysouls #blogger #bloggerstyle #bloggerlife #bloggerindonesia #travelblogger #indonesia #wonderfullindonesia #pesonaindonesia #exploreindonesia #discoverindonesia #geonusantara #lingkarindonesia #kompasnusantara #indonesiaindah #yogyakarta #jogja #jogjaku #jogjakartahits #jogjakartaistimewa #explorejogja #travel #travelphoto #travelphotography

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

Maka ketika Bayu Kurniawan, konco dolan di Jogja menghubungi gue melalui WhatsApp saat gue mudik ke Jogja tahun 2017 lalu, gue langsung kemukakan niat gue buat mampir di Mercusuar Pantai Pandansari. Pantai Pandansari ini berada di dekat Pantai Kuwaru dan Pantai Goa Cemara yang teduh dengan pepohonan. Perjalanan menuju Pantai Pandansari pun berlangsung sangat lancar. Meskipun saat itu lagi pekan hari libur lebaran, tapi mungkin belum banyak wisatawan yang bergerak ke arah selatan sepagi itu.

Sayangnya, saat kami pertama kali sampai, bapak penjaga mercusuar sedang pergi, dan beliaulah sang empunya kunci. Akhirnya kami ke Gereja Ganjuran dulu. Balik lagi ke Pandansari, eh bapaknya belum juga dateng. Kami menunggu dengan ngopi-ngopi, liat-liat pantai, lalu foto-foto di area hutan. Sukacita kami membuncah ketika bapak penjaga sudah kembali dan kami bisa masuk ke dalam mercusuar.

kiri: sesi foto dadakan di area hutan
kanan: foto-foto di luar mercusuar menunggu bapak penjaga datang
naik, naik, ke puncak mercusuar

Menara suarnya tinggi juga lho, 30 meter, kalau nggak salah dibagi dalam 7 lantai. Biaya retribusinya Rp5.000 aja. Kami menapaki ratusan anak tangga melingkar sampai tiba di lantai tertinggi. Buat orang yang fobia ketinggian kayak gue, tangga mercusuar ini cukup menantang. Apalagi, di lantai teratas kami harus memanjat dengan tangga untuk dapat mencapai observation deck terbuka. Gue menarik nafas dalam-dalam, menguatkan tekad, dan memanjat dengan tangan tergenggam erat. Keputusan yang nggak gue sesali, karena perjuangan gue siang itu dihadiahi dengan panorama pantai dan persawahan kabupaten Bantul yang mantap betul!

:good::good:

pemandangan indah dari puncak mercusuar pantai pandansari, bantul
samudera dan persawahan hijau terlihat dari puncak menara

Matahari masih bersinar siang itu, meski langit dalam keadaan bersaput awan. Gue tetap menikmati kunjungan kami, dengan sleeveless shirt yang mempersilakan terik dan panas menjilat-jilat kulit tanpa hambatan. Suasana dek yang cukup tenang, hanya ada kami dan sekumpulan remaja lokal, membuat kami cukup leluasa berfoto-foto.


Bukit Panguk Kediwung

Masih di kabupaten yang sama, di hari yang sama, gue dan Bayu melanjutkan petualangan kami ke Bukit Panguk Kediwung, sebuah obyek wisata kekinian yang sebetulnya paling enak dikunjungi pagi-pagi saat terbitnya matahari berpadu dengan gulungan kabut. Tempat wisata ini berdekatan dengan Bukit Mojo Gumelem, Jurang Tembelan, Watu Lawang, Puncak Songgo Langit, Kebun Buah Mangunan, Puncak Becici, dan Hutan Pinus. Jadi bisa kamu agendakan seharian penuh eksplor tempat-tempat itu dari sunrise sampai sunset.

Baca juga: Jalan-Jalan Kekinian di Kebun Buah Mangunan, Yogyakarta

gimana? foto gue ini bikin mupeng ke bukit panguk nggak?
kiri: mau sok cool kayak spiderman tapi FAIL
kanan: ban-ban instagrammable di sudut bukit

Tiket masuk untuk 2 orang ke Bukit Panguk Kediwung cuma Rp7.000 aja dong udah termasuk parkir motor. Karena belum makan siang dan perut udah mulai qasidahan, kami makan siang dulu di salah satu warung makan yang ada di dalam obyek wisata. Seporsi nasi goreng, tahu guling, kopi, dan teh panas Cuma Rp23.000 aja dong! Padahal karena obyek wisata, kirain bakal maharani harganya.

Sama kayak tempat-tempat wisata lain di sekitarnya, Bukit Panguk Kediwung menawarkan pemandangan Sungai Oyo yang berkelok-kelok membelah perbukitan hijau. Ada bermacam-macam spot foto instagrammable yang tersedia, seperti spot pondok kayu, spot kupu-kupu, dan spot unicorn. Ternyata nggak semuanya gratis, hahaha. Ada beberapa yang berbayar, tapi nggak mahal kok, cuma di kisaran Rp3.000. Fakta ini juga baru kami ketahui pas kami mau foto di spot unicorn, tiba-tiba ada ibu-ibu (atau bapak-bapak ya? Gue lupa) yang berseru, “Kalo mau foto di situ bayar lagi ya, mas.”

kereta kuda terbang ini adalah salah satu spot berbayar di bukit panguk kediwung
sok-sok berdiri gagah, padahal kakinya udah mau gemeteran ituuu

Mau tau trik supaya bisa foto di spot-spot foto berbayar itu? Bisa. Fotolah sebelum mereka resmi buka, atau sebaliknya, tunggulah menjelang petang saat mereka sudah tidak berjaga. Trik ini kami lakukan secara nggak sengaja, kok. Saat itu kami masih asyik foto-foto di salah satu spot gratisan, lalu saat memperhatikan suasana, ternyata si bapak udah nggak ada. Jadilah kami foto-foto di spot berbayar yang dia jaga.

:evilsmirk::evilsmirk:

foto siluet di penghujung hari bukit panguk kediwung
kira-kira lagi mikir apa gue ini?
ada properti foto juga di bukit panguk kediwung

Gue mau curhat dikit. Pas lihat foto-foto orang di Instagram, rasanya pengeeennn banget ikutan foto di spot-spot itu. Setelah mencoba langsung, ternyata spot fotonya agak serem juga, wgwgwg. Gue harus melalui jembatan tangga kayu menuju spot foto yang berdiri ditopang tiang-tiang bambu di bibir jurang. Gue nggak berani terlalu berlama-lama. Di detik-detik yang terasa begitu lama itu, gue hanya bisa berdoa di dalam hati supaya tiang-tiang bambu dan dataran di bawahnya yang menjadi pijakan tetap kuat dan tidak goyah. Seperti namaqu #eh


Embung Nglanggeran, Gunung Kidul

Kalau pada tahun 2016 lalu gue udah berhasil ke Gunung Purba Nglanggeran, kali itu gue dan Bayu akhirnya berhasil mampir ke Embung Nglanggeran. Harga tiket masuknya Rp10.000 ditambah Rp2.000 untuk parkir sepeda motor. Biaya tiket masuk yang lebih mahal dari 2 obyek wisata sebelumnya sepadan dengan keindahan yang diperoleh. Ngomong-ngomong, selain datang langsung, keindahan Embung Nglanggeran juga dapat kamu nikmati dari puncak Gunung Purba Nglanggeran.

Baca ceritanya di: Melalui Celah-Celah Sempit Gunung Purba Nglanggeran

kiri: spot rumah pohon populer di embung nglanggeran
kanan: menapaki undak-undakan menuju embung

Embung adalah sebuah danau buatan yang dibangun untuk menampung air hujan sekaligus memperbaiki kualitas air sungai atau danau di dekatnya. Tampungan air hujan tersebut nantinya digunakan warga saat musim kemarau. Make sense, karena memang kabupaten Gunung Kidul ini sudah biasa mengalami kesusahan air saat musim kemarau.

Tepat saat kami tiba, gerimis akhirnya turun setelah sekian lama hanya tertahan di awan-awan mendung. Gue dan Bayu lantas berteduh di salah satu warung, melahap makan siang dan menyesap secangkir kopi sobek. Dari lahan parkir, kami menapaki anak-anak tangga menuju embung. Jalur pedestrian mengitari embung berdiameter 60 meter tersebut sehingga pengunjung nyaman berjalan dan berfoto-foto. Ada pagar pengaman yang memastikan keselamatan pengunjung, khususnya anak-anak kecil.

Ada beberapa rumah pohon yang menjadi jujukan populer wisatawan mengambil foto-foto, termasuk kami. Sayangnya, hanya satu rumah pohon yang membidik embung dengan sempurna, jadi kami harus antre. Saat itu sudah sore, jelang matahari terbenam. Walaupun gagal mengabadikan foto diri dengan latar sunset yang menggugah seperti di linimasa Instagram, tapi kalau kamu perhatikan dengan seksama, kamu akan melihat lapisan kabut menyelimuti pegunungan di kejauhan. Magis.


Pantai Sadeng, Gunung Kidul

Cerita selengkapnya tentang pantai yang satu ini akan gue bahas di tulisan yang lain. Di sini, cukuplah gue sampaikan kalau Pantai Sadeng adalah pantai yang lokasinya di ujung timur kabupaten Gunung Kidul, udah deket dengan perbatasan Jawa Tengah, nyahahaha. Jadi, buat yang mau ke sini naik motor kayak gue, siap-siap aja ya pantat tepos dan bibir kering keanginan.

kapal-kapal nelayan di pantai sadeng, gunungkidul
memandangi keindahan samudera di pantai sadeng, gunungkidul

Pantai Sadeng sejatinya bukanlah sebuah tempat wisata, tapi pelabuhan perikanan. Area pantainya sempiiittt, nyaris nggak ada. Pengunjung biasanya menikmati keindahan alamnya dari susunan batu-batu karang pemecah ombak. Air laut berwarna hijau toska, perahu-perahu nelayan yang kaya warna, dan tebing-tebing tepi laut adalah 3 hal yang dapat kita nikmati di sini. Biaya retribusi memasuki area pantai Gunung Kidul adalah Rp10.000, ditambah Rp2.000 untuk ongkos parkir di Pantai Sadeng.


Bukit Pengilon, Gunung Kidul

Menikmati gagahnya Samudera Hindia dari atas tebing ternyata nggak cuma bisa dilakukan di Bali lho, karena Jogja punya Bukit Pengilon. Tempat wisata yang satu ini terbilang baru banget, kemungkinan belum banyak orang yang tahu. Gue dan temen gue, mas Hery, naik motor melalui jalan pedesaan yang sempit, membelah hutan melalui jalanan berbatu terjal dan naik turun. Kami hanya bergerak ke arah Gunung Purba Batur, lalu mengikuti petunjuk dari papan-papan swadaya warga meski berkali-kali kami khawatir akan salah jalan.

penasaran sama tempat ini? tunggu cerita gue selanjutnya 🙂
perjalanan menuju ke bukit pengilon, dan perjalanan baliknya, adalah sebuah perjalanan yang cukup dramatis

Setelah setengah jam berjalan kaki cepat yang menguras keringat (beberapa orang mungkin butuh waktu lebih lama) dari lahan parkir, rasa lelah terbayar dengan keindahan Bukit Pengilon yang meninggalkan bekas mendalam. Gue beruntung, karena saat itu awan-awan terbuka, membiarkan langit memoles diri dengan rona jingga dan lembayung hingga sang surya lenyap di ufuk barat. Cerita selengkapnya tentang Bukit Pengilon ini juga akan gue tulis dalam satu tulisan dengan Pantai Sadeng.


Jadi, di antara kelima tempat di atas, mana yang menurut kamu paling menarik? Gue pribadi paling suka sama Bukit Pengilon. Jogja itu memang nggak ada habisnya, selalu ada yang baru di Jogja! Nggak salah deh kalo Jogja punya tagline, “Never ending Jogja.”

Iklan

21 tanggapan untuk “5 Tempat Wisata di Jogja yang Instagrammable dan Anti-Mainstream!”

  1. Wah, ternyata mas bro Asli Jogja toh? Sama dong? Kalau aku pernah tinggal n kuliah di Jogja..😀😀😀

    Jogja itu bagiku udah seperti kampung keduaku. Aku kangen banget ke Jogja terakhir ke Jogja 3 tahun lalu, tapi Jogja belum tentu kangen sama aku. 🙌🙌

    Viewnya keren-keren…👍👍👍
    Btw…suka di poto membelakangi ya bro? 😊✌

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.