Sehari Berpetualang di Pantai Sadeng, Pantai Wediombo, dan Bukit Pengilon Yogyakarta

Pantatku sudah nyaris mati rasa ketika kami berkendara melalui jalanan pesisir kabupaten Gunung Kidul yang kecil, namun mulus. Eh, ini sedang mendeskripsikan jalan atau paha anak SMP ya? Jalanan yang lengang itu berkelok dan naik turun, kedua sisinya diapit pepohonan, sesekali melalui rumah-rumah penduduknya yang sederhana.

Tak banyak yang bisa kulakukan untuk membuat nyaman diri sendiri selain berkali-kali memperbaiki posisi duduk, selebihnya aku mencoba menikmati hembusan angin pantai yang entah sudah puluhan menit ini menerpa wajahku dengan bebas. Ya, kecuali ada truk atau bus dengan asap hitam pekat yang memuakkan, aku lebih suka membiarkan kaca helm tersingkap. Ingin rasanya aku meminta mas Hery untuk rehat sejenak. Tapi dari beberapa kode yang kulontarkan, seperti, “Mas, mau istirahat dulu nggak?” mas Hery sepertinya lebih memilih untuk terus memacu si kuda besi agar segera sampai tempat tujuan.


Pantai Sadeng, Pelabuhan Ikan yang Menawan di Perbatasan

Saat itu tanggal 13 Juni 2018, sekitar pukul 11 siang. Sudah hampir 2 jam kami berkendara dari rumahku di Kadipiro, kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul. Pantai Sadeng yang berada di ujung timur Gunung Kidul, nyaris di perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, menjadi tujuan kami siang itu. Adalah ide mas Hery untuk blusukan ke Pantai Sadeng. Dia, warga Jakarta yang lebih sering bolak-balik Jogja daripada diriku sendiri, sudah khatam tempat-tempat wisata populer kekinian di Yogyakarta yang aku sendiri belum pernah sambangi.

pohon besar di pantai sadeng

Karena aku hanya tinggal duduk manis di boncengan, aku patuh dengan idenya. Kalau naik motor sendiri sih, wah.. jangan harap! Aku adalah seorang pria manja dan pemalas yang enggan membuang-buang waktu dan energi dengan naik motor selama puluhan menit menuju suatu destinasi. Itulah mengapa aku sangat jarang menjelajah wisata alam di daerah sendiri, baik Bandung atau Yogyakarta, karena aku lebih memilih terbang ke negara-negara seberang (atau luar Pulau Jawa) dan menikmati kelana dengan berjalan kaki atau naik angkutan umum. Tengoklah kisah-kisah perjalananku mengunjungi tempat-tempat wisata alam Jogja di blog ini, semuanya kulakukan berdua dan aku selalu menjadi sang pembonceng. Terima kasih ya, mas Hery, Bayu, dan Sarjoko sebagai pihak-pihak terbonceng.

Sekitar pukul 11:30, kami akhirnya tiba di Pantai Sadeng. Kami memarkirkan sepeda motor di tempat yang disediakan dengan membayar biaya hanya sebesar Rp2.000,00. Saat itu cuacanya begitu terik, aku berjalan menghampiri pantai dengan mata yang sedikit menyipit karena silau cahaya matahari.

kapal-kapal nelayan di pantai sadeng, gunungkidul

Tidak seperti kebanyakan pantai-pantai lainnya di Gunung Kidul, Pantai Sadeng ini agak unik. Sejujurnya, ia bukanlah sebuah pantai, namun sebuah pelabuhan ikan. Warung-warung makan yang menjajakan olahan produk laut yang segar berderet mengitari lahan parkir. Kami tentu tergoda, tapi nanti deh, lebih baik kami menikmati pantai dulu.

Wujud Pantai Sadeng belum terlihat dari posisi tempat parkir, lautnya pun tak tampak. Barulah setelah kami melalui sebuah pohon tinggi besar dengan dahan-dahannya yang kering (mungkin pohon keramat?), kami dihadapkan dengan panorama laut berwarna toska dengan perbukitan hijau yang mengapit kedua sisinya, semacam teluk kecil begitu. Perahu-perahu nelayan dalam guyuran warna biru tertambat di dermaga beton. Seorang bapak nelayan sempat meminta bantuanku untuk mengikatkan tambat.

Aku heran kenapa perahu-perahu itu dibalut dengan warna-warna yang senada warna laut. Kenapa tidak warna-warna kontras seperti kuning, oranye, atau minimal merah? Kalau sewaktu-waktu terjadi apa-apa, warna-warna seperti itu ‘kan akan mudah ditemukan tim SAR.

kapal-kapal patroli polisi di pantai sadeng gunungkidul

ada banyak kapal nelayan di pantai sadeng gunung kidul

Kami meninggalkan perahu-perahu nelayan itu dan mulai berjalan menyusuri dermaga. Kali ini, kami melihat perahu-perahu patroli polisi tertambat tanpa awak. Aku tertegun, karena setelah dilihat dari dekat, ternyata sampah-sampah masa kini terapung berantakan di bibir dermaga. Kupikir, karena masih jarang dijamah, pantainya akan bersih.

Dari posisi kami saat itu, kami melihat sebuah area pantai pasir putih yang sempit dan sebuah “jembatan” bebatuan yang melintang, memisahkan area “parkir” kapal-kapal dan area laut alami yang bebas. Hanya ada beberapa orang di area pantai pasir putih, tapi sudah cukup membuatnya terkesan sempit. Kami memilih “jembatan” bebatuan. Kami berjalan memutar melalui kapal agak besar yang terbengkalai, tak ada akses yang nyaman dari posisi kami saat itu menuju jembatan.

panorama pantai sadeng di gunungkidul

Tiba di jembatan batu, tak banyak yang bisa dilakukan selain berfoto dan duduk bersantai menikmati pemandangan. Batu-batu di tengah jembatan, sekitar tiga balok, disusun rapi dan nyaman untuk berjalan kaki, sementara balok-balok batu di kanan kirinya dibiarkan “tergeletak” dengan acak, tapi justru menjadi obyek berfoto yang apik.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata di Jogja yang Instagrammable dan Anti-Mainstream


Pengalaman Makan Siang Termahal di Yogyakarta

Puas dengan pemandangan, suasana, dan foto-foto, kami mampir ke sebuah warung makan seafood sederhana di dekat tempat parkir. Aku lupa komoditi laut apa yang persisnya kami pilih saat itu, sepertinya cumi, namun kami memintanya diolah dengan goreng tepung (crispy) dan oseng sambal. Komoditi lautnya disimpan dalam freezer, dan kalau dari aromanya, nampaknya masih segar. Kami duduk lesehan sambil menunggu sajian kami dihidangkan. Agak lama memang, tapi kami maklum, karena hanya warung makan sederhana di pantai ujung timur Yogyakarta.

Makan siang kami datang dengan aroma yang menguar menggugah selera! Nasi dihidangkan dalam wadah bambu kecil, ditemani dua gelas es teh manis. Cumi tepungnya juaraaa! Bukan tepung crispy kriuk-kriuk seperti yang dibayangkan, lebih seperti ayam KFC original yang tepungnya “basah”, tapi justru di situ nikmatnya. Gurihnya itu lho, aaahhh. Cumi oseng sambalnya juga enak, tapi tetap cumi tepunglah yang bikin nagih. Kami berdua sama-sama bukan pemakan besar, jadi aku dan mas Hery bersusah payah menghabiskan kedua hidangan cumi kami.

Ketika sudah tak lagi sanggup memasukkan sesuap apa pun ke dalam rongga mulut, kami menanyakan berapa harga yang harus dibayar kepada ibu penjual. Aku sudah siap bila harganya agak mahal, hidangan laut memang mahal di mana-mana, tapi ketika dia mengucapkan, “Rp96.000,” darah seakan surut dari kepalaku.

Aku dan mas Hery memeriksa nota dengan teliti, komoditi mana yang membuat harga jualnya melambung? Aku bahkan sempat meminta konfirmasi kepada ibu penjual, meyakinkan diri bahwa dia tidak salah hitung atau salah tulis. Kau tahu apa yang mahal? Es teh manisnya wajar, cuminya memang mahal tapi okelah, nasinya… Rp20.000,00. Aku ngedumel di dalam hati. Nasi macam apa yang harganya Rp20.000,00? Kami bahkan tidak menghabiskan nasinya, masih ada sekitar setengah bakul yang tersisa. Bisa dimakan atau diolah lagi kalau mau, toh kami mengambilnya dengan enthong, tidak dengan mulut. Dengan hati dongkol dan berusaha berpikir positif, kami berjalan menuju sepeda motor kami.


Gagal Basah-Basahan di Pantai Wediombo

Karena kami akan ke pantai, maka aku membayangkan bahwa kami akan berbasah-basah bermain air. Mungkin aku akan bisa menggelar sesi foto shirtless di pantai seperti pria-pria Instagram masa kini. Aku sudah siap dengan baju ganti dan peralatan mandi di dalam tas. Maka dari itu, usai dari Pantai Sadeng, aku meminta mas Hery mengajakku ke pantai di dekatnya yang memungkinkan untuk bermain air. Dia lalu memutuskan Pantai Wediombo. Biar nggak terlalu gondhok karena udah bawa baju ganti ngonoo.

pantai wediombo yang sedang surut

duduk santai menikmati pantai wediombo yang sedang surut

Tiba di Pantai Wediombo, kami kembali membayar retribusi parkir sepeda motor sebesar Rp2.000,00. Rupanya dari area parkir, kami harus menuruni undak-undakan yang cukup menguras tenaga. Ketika sudah mendekati akhir undakan dan melihat suasana pantai, ternyata pantainya lagi suruuuttt!

Alih-alih berbasah-basahan seperti yang dibayangkan, akhirnya kami berdua hanya melompat-lompat dari bebatuan yang satu ke bebatuan yang lain. Sesekali berhenti mengamati biota laut yang berkeriapan di dalam air yang dangkal. Kadang mereka meluncur cepat atau berenang-renang di antara karang-karang, kadang mereka diam dan bersembunyi malu-malu di celah batu terdekat.

mengamati burung bangau di pantai wediombo

Karena kondisinya seperti itu, kami pun tidak berlama-lama di Pantai Wediombo. Aku menguatkan diri menapaki tangga naik ke lahan parkir karena saat itu, entah mengapa, nafasku terasa agak sesak. Kami bergerak menuju destinasi berikutnya, mudah-mudahan masih belum terlambat untuk mengabadikan momen matahari terbenam―Bukit Pengilon.

Baca Juga: Melalui Celah-Celah Sempit Gunung Purba Nglanggeran


Sesaat yang Tak Terlupakan di Bukit Pengilon, Gunung Kidul

Kami berkendara dengan hati-hati melalui jalan setapak pedesaan yang hanya berupa tanah dengan 2 lajur bebatuan yang diratakan untuk kendaraan beroda dua. Di kanan kiri kami hanya ada hutan dan pegunungan, sementara beberapa warga desa berpapasan dengan kami dengan setumpuk kayu bakar atau dedaunan yang terpanggul di punggung. Tak ada tanda-tanda bahwa kami sedang menuju sebuah destinasi wisata, meski kami yakin kami sudah patuh mengikuti arah yang diberikan papan petunjuk terakhir. Aku mulai was-was kami tersesat di tengah hutan, sementara warga desa dan perumahan penduduk mulai semakin jarang terlihat.

berjalan menuju bukit pengilon, gunungkidul

Saat rasa khawatir sudah mencapai titik puncaknya, kami bertanya pada seorang mas-mas yang jawabannya memberikan kelegaan kepada kami. Kami sudah berada di jalan yang benar (eh, jadi semacam cerita kesaksian religi). Singkat cerita, kami kemudian tiba di area parkir Bukit Pengilon. Mas Hery sudah pernah ke sini sebelumnya, namun saat itu dia melalui jalur dari Pantai Siung, bukan jalur baru yang kami jajal sore itu karena terpengaruh arahan sebuah papan petunjuk.

Mas-mas tadi memberitahu kami bahwa kami masih bisa membawa sepeda motor sampai Bukit Pengilon, meski harus ekstra hati-hati. Tak ada yang menjaga area parkir saat itu. Kami sempat ragu sejenak, apakah sebaiknya memarkirkan sepeda motor di situ atau membawanya turut serta sampai Bukit Pengilon. Karena bensin sudah di tetes-tetes penghabisan, kami meyakinkan diri bahwa kawasan pedesaan Gunung Kidul ini masih sangat aman dari tindak kriminal. Dengan bismillah dan restu Yesus Kristus, kami berjalan meninggalkan sepeda motor, menghilang dalam rimbunnya hutan.

mendekati titik utama bukit pengilon

pemandangan yang memberi kelegaan

Nafas yang sudah kembali normal membuatku dapat berjalan cukup cepat mengimbangi langkah jenjang mas Hery, malah aku lebih sering mendahuluinya di depan. Medan menuju Bukit Pengilon sangat ramah untuk semua tipe pengunjung, selama tidak memakai sepatu berhak tinggi, tentu. Seingatku malah tidak banyak tanjakan, lebih banyak turunan dan bidang datar. Butuh waktu sekitar 30 menit dengan langkah cepat dan konstan hingga kami mendekati area Bukit Pengilon.

Nafas yang sudah memburu, badan yang sudah lengket oleh keringat, dan betis yang sudah terasa letih, disegarkan saat kami melalui punggung bukit, menikmati pemandangan medan miring berundak-undak, seperti terasering tanpa padi. Suara deburan ombak mulai samar terdengar.

Aku melangkah penuh antusiasme hingga tiba di punggung bukit berselimutkan rumput kecokelatan yang menghadirkan panorama laut selatan dengan bebatuan karang dan tebing-tebing karst-nya. Ombak yang bergulung hancur ketika menubruk bebatuan karang di bawah sana, dan begitu seterusnya. Aku dan mas Hery bergantian saling meminta tolong untuk mengambil foto. Aku yang lebih sering minta difoto, tentu.

berpose di hadapan sang surya di bukit pengilon

Tapi tunggu, ini bukan akhir perjalanan kami, karena keindahan prima Bukit Pengilon ada pada sebuah titik yang menjulang tepat di sisi samudera. Di titik itulah kami dapat berfoto menghadap sang surya yang bergulir cepat ke dalam peraduan, langit yang mulai merona jingga, samudera yang bergelora di sisi tebing-tebing karang yang perkasa. Ada tali pengaman untuk membatasi area pengunjung agar jangan ada pengunjung yang cukup nekad (atau bodoh) dengan duduk atau berdiri di bibir tebing. Di sudut Bukit Pengilon, berdiri sebuah bangku dari bambu dengan instalasi berbentuk hati yang menurutku tak perlu ada di situ. Keberadaan dan ketiadaannya tidak akan memengaruhi keindahan Bukit Pengilon.

Selain kami berdua, hanya ada seorang cewek yang berkemah di situ. Dia acuh kepada kami, seolah kami tak ada, wajahnya tampak misterius dengan kacamata hitam yang mencegah kami melihat wajahnya secara utuh. Sesekali dia duduk di bangku bambu. Kalau boleh jujur, penampilannya (dan pembawaannya yang angkuh) berbeda dengan cewek yang berkemah di bukit pada umumnya.

Sebelum terlalu gelap, kami memutuskan untuk buru-buru kembali ke tempat parkir meski raga sebetulnya masih ingin beristirahat. Saat itulah, kami bertemu dengan bapak penjaga yang tinggal di sebuah rumah mungil di area Bukit Pengilon. Kami memberikan retribusi sebesar Rp4.000,00 kepada beliau.

Hutan sudah nyaris gelap gulita ketika kami berjalan secepat mungkin menuju tempat semula. Perjalanan ini mengingatkanku saat berjalan kembali menuju dermaga di Pulau Nusakambangan, Cilacap, sebelum kami (aku dan koh Donny saat itu) tertinggal perahu terakhir yang menyeberang ke daratan utama Pulau Jawa.

panorama bukit pengilon

Kami berkendara melalui jalan setapak yang gelap, satu-satunya sumber cahaya (dan suara) adalah sepeda motor kami sendiri. Boro-boro lampu penerang jalan, rumah penduduk pun tak tampak. Mas Hery berharap bensin yang tersisa masih cukup untuk mengantarkan kami kepada pom bensin terdekat. Kalau tidak, wah.. kami harus siap mendorong sepeda motor dalam kegelapan hutan tanpa jaminan ada warga yang segera melihat kami. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya?

Gelombang kelegaan melandaku ketika, nyaris di titik-titik penghabisan, kami menemukan sebuah warung kelontong yang menjual bensin. Puji Tuhaaannn, seruku di dalam hati. Saat itu kami sudah melalui hutan, mulai memasuki kawasan pemukiman warga desa. Aku sekalian membeli air minum seharga Rp4.000,00 mengingat kami berdua sama sekali tidak minum apa pun sejak beberapa jam terakhir.

Baca Juga: Jalan-Jalan Kekinian di Kebun Buah Mangunan

baskara di penghujung senja

Dengan kecepatan tinggi, mas Hery memacu sepeda motornya melalui jalanan yang berkelok dan naik turun. Angin malam perlahan mengangkat keringat yang melekat seiring dengan perjalanan kami kembali menuju Yogyakarta yang hangat. Perjalanan hari itu akan menjadi salah satu perjalanan singkat yang tak akan kulupakan. Ketika tiba di rumah, sungguh, tak ada lagi hal yang lebih nikmat selain mandi, lalu memanjakan diri sendiri dengan makan malam dan secangkir kopi hangat.

Iklan

33 komentar

  1. […] Setelah setengah jam berjalan kaki cepat yang menguras keringat (beberapa orang mungkin butuh waktu lebih lama) dari lahan parkir, rasa lelah terbayar dengan keindahan Bukit Pengilon yang meninggalkan bekas mendalam. Gue beruntung, karena saat itu awan-awan terbuka, membiarkan langit memoles diri dengan rona jingga dan lembayung hingga sang surya lenyap di ufuk barat. Cerita selengkapnya tentang Bukit Pengilon ini juga akan gue tulis dalam satu tulisan dengan Pantai Sadeng, silakan dibaca di: Sehari Berpetualang di Pantai Sadeng, Pantai Wediombo, dan Bukit Pengilon […]

  2. Maraton yo Mas, satu hari langsung banyak lokasi.
    Mbok ya nasi yang rongpuluh ewu ra entek itu dibungkus, buat bekal perjalanan selanjutnya, wkwkkw

    Itu motretnya pake timer apa minta difotoin Mas? :3

    1. Lha neng omah yo ono sego je, mas. Wkwkwk.
      Difotoin 😀

  3. Wah, akhir tahun gini biasanya sunset di Jogja lagi bagus-bagusnya nih. Itu kayak di Pengilon kece banget, sunsetnya 😀

    1. Yes, one of the prettiest sunset in my life

  4. sego nek ning jogja larang mas..tapi nek ning jakarta murah wkkwkkw
    sini ke solo..10.000 wis sego lawuh iwak pitik n sayur heheh
    ini tulisan kok tumben panjang banget

    1. Neng jogja sing Rp10.000 enthuk sego lawuh yo akeh kok, mas. Iki lagi apes wae.

      Woh, aku memang kadang nulis panjang, haha

      1. Tapi saiki nek sekelas jogja mulai larang..bedo jamanku kuliah mas..
        Nasib nasib..mungkin ngerti nek travel bloggetr dadi dilarangke..

      2. Wih, kuliahe berapa dekade yg lalu mas? 😂

      3. jangan bilang dekade..ntar pada tau aku usia berapa hahah

  5. Nasinya 20 ribu ???

    Mungkin direndam pake air zam zam mas.. 😂

    1. Impor dari Jepang kali, wkwkwk

  6. Laaaaah, di Wediombo kok ga ke lagunanya itu, kan malah bagus kalo surut jadi kolam renang banget. wkwkwkwk

    1. Nggak tau ada lagunanya, mas 😦

  7. Udah sampai Sadeng aja, Nugie. Aku malah belum pernah ke sana. Males. Jauh. Pol mentok cuma ke Wediombo. Btw aku juga penasaran sama Bukit Pengilon lho, kalau paa hijau buat camping kayaknya seru.

    1. Pancen, mbok. Jauuuhhh banget! Terus nothing much to do, sih. Nah, mending ke Bukit Pengilon aja terus nginep semalem.

  8. Mas, yakin itu cewek betulan? Ngeri amat sendirian ngecamp di situ. 😹😹
    Btw, wisata pantai Gunung Kidul makin banyak ya. Gambing juga ke sana nyari yang sepi yang mana. Hahahahaha.

    1. Lebih tepatnya makin banyak yang terekspos, kalo jumlah pantainya dari dulu ya sama aja 😀

      cari yang masih anti-mainstream, bang. banyak kok. termasuk pantai sadeng ini.

  9. wkwk nasi 20.000!!! tapi kadang emang serem juga makan di warung yang gak jelas harganya. Katanya baiknya ditanyain dulu harganya tapi biasa kan kita keburu maen pesen2 aja gitu…

    1. Iya sih ya. Kirain karena masih sepi, jadi pedagangnya masih polos.

  10. Seru bacanya.
    memang bensinnya tidak diisi full fulu ya mas sebelum berangkat?

    Hanya ada 1 orang wanita selain kalian di Bukit Pengilon. Kenapa kamu sia-siakan? Mungkin saja itulah wanita yang Dia kirimkan. ahahaha

    1. Iya nggak full, bang. Salah prediksi.
      Ahihi, wanitanya nampak jutek sih xD

  11. Mungkin itu nasi putih papan atas, makanya harganya dua puluh rebu.

    Ga ada yang lebih menyenangkan selain ‘diketok’ di kota sendiri

    1. Haha, papan atas berlapis emas kali ye

  12. Keren banget pemandangan Bukit Pengilon, tapi serem juga kalau pulangnya kemalaman

    Btw. nasinya sebanyak apa, kok bisa harganya Rp. 20.000 ?

    1. Satu bakul gitu, bro. Tau nggak? Yang wadah dari anyaman bambu. Kurang lebih bisa 3-4 porsi.

      1. Berarti agak mahal. Untuk kelas warung makan, harga nasi per porsi rata-rata Rp. 3000

  13. waduh 1 cewek “misterius” camping sendirian”, gokil nih cewek
    kalo aku ya paling nggak harus ada barengan, aku nggak sehebat dia berarti, berani camping di tempat sesunyi dan sesepi itu
    Btw, sunsetnya cakep, belum pernah explore jogya sampe ke pinggir2 kayak gini, meskipun punya sodara di daerah bantul, next deh

    1. Next time explore Gunung Kidul, kak. Banyak yang cakep! 😀

  14. seru juga aktifitasnya, artikelnya unik krn bahas dari sisi experience nya… mantap, lanjutkan kak.. dengan tempat2 lain yang gak kalah menariknya…

    1. Iya mas, karena aku memang sukanya menulis naratif, jadi nggak deskriptif doang kayak artikel koran.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: