Review, Singapura, Travel

Pengalaman Makan Murah di 7 Tempat Singapura

naik angkutan umum ke mana-mana biar bisa hemat di singapura

Kata siapa sih jalan-jalan di Singapura itu mahal? Ya kalau ngana mainnya ke tempat-tempat wisata berbayar, nginep di hotel, naik taksi ke mana-mana, atau belanja popcorn Garrett sekarung, ya jelas aja liburan ngana jadi mahal. Makanya, biaya jalan-jalan harus dipangkas dengan nginep di kamar bunk bed dormitory (asrama) hostel dan naik transportasi umum ke mana-mana. Syukurlah, harga makanan di Singapura di pinggir jalan dengan harga makanan di mal atau bandara ternyata sama aja, lho!

Melalui tulisan ini, gue bakal share pengalaman gue makan murah meriah di 7 tempat berbeda dalam perjalanan gue ke Singapura tanggal 17-20 November 2018. Fresh from the freezer! Gue antusias banget membagikan tips ini sampai-sampai ulasannya langsung gue tulis sekarang. Psst, hampir semua tempatnya menyediakan makanan halal lho.

Baca Juga: Rekomendasi 4 Hostel Murah di Singapura

 


Crave, Terminal 2 Bandara Internasional Changi

Nama lengkapnya adalah Crave, The Original Adam Road Nasi Lemak by Selera Rasa. Lokasinya ada di Arrival Hall T2 Bandara Changi. Saat itu gue kelaperan banget karena belum makan malam setelah menempuh penerbangan dengan maskapai SCOOT (it was my first time, lho) dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta jam 20:00. Selagi masih ada waktu beberapa menit sebelum mobil City Shuttle dateng jam 23:45, gue buru-buru ngacir cari makan malem dan seneng banget ketemu Crave ini.

:wow:

Hasil gambar untuk crave nasi lemak changi airport

As you suggest, Nasi Lemak di Crave ini halal. Ada beberapa opsi, gue pilih Nasi Lemak with Chicken Cutlet dengan harga 5.9 SGD sahaja. Harga nasi lemak lainnya sama, kok. Selain nasi lemak, ada beberapa olahan minuman juga. Nasi Lemak Chicken Cutlet terdiri dari 2 potong ayam, telur rebus, kacang teri, dan sambal manis khas Melayu. Kardus takeaway-nya rapi, enak dibawa-bawa selama perjalanan.

 


Lucky Plaza, Orchard Road

Yang satu ini mungkin udah pernah kamu denger. Lucky Plaza memang jadi semacam oasis di tengah deretan mal mevvah dan toko-toko bergengsi di Orchard Road. Saat itu hari Minggu, dan Lucky Plaza ini penuh bangeeettt! Keriaan massa Lucky Plaza udah dimulai dari area luar. Nampaknya hari Minggu memang jadi waktunya buibuk TKW Indonesia dan Filipina hangout di sini.

:sweating:

Buat yang mau ke Singapura pertama kali, lokasi Lucky Plaza ada di seberang mal ION Orchard yang ikonik, fotogenik, dan mahalgenik itu. Nyaris di ujung Orchard Road kalau kamu berjalan dari Stasiun MRT Dhobby Gaut. Dari depan kiri, langsung masuk ke dalam menuruni beberapa anak tangga. Terus berjalan, nanti kamu akan menemukan foodcourt ini setelah McD. Gue hampir selalu ke sini dalam setiap kunjungan gue ke Singapura, pertama kali tahun 2013.

Baca Juga: 11 Tips Memangkas Pengeluaran Jalan-Jalan di Singapura

Gue syok saat ke foodcourt Lucky Plaza hari itu. Penuh bangeeettt! Padahal sebelum-sebelumnya nggak pernah seriuh itu. Gue muter-muter, nggak ada tempat duduk buat kami berempat. Akhirnya gue buru-buru nyempil di sebelah sekelompok mbak-mbak Filipina yang piringnya udah terlihat pada kosong. Di hadapan gue ada mas-mas Chinese Singaporean yang makan dengan cepat sendirian. Karena udah cukup lama dan mbak-mbak Filipina kayak nggak tau diri, gue akhirnya beranikan diri buat nanya, “Excuse me, have you finished your meal?” Salah satu dari mereka menjawab, “No, one more.”

:sigh:

Ya udah, gue nunggu sambil duduk mepet-mepet di antara mereka dan temen gue yang lagi makan. Gue duduk membelakangi meja, menghadap keriuhan orang-orang. Tiba-tiba mas-mas Singaporean tunyuk-tunyuk pake telunjuk, nunjukin kalau dia udah selesai makan dan gue bisa pakai tempatnya. Yak, begitulah budaya makan orang Singapura. Nggak kayak buibuk TKW Indonesia dan Filipina yang berlama-lama di meja makan buat ngobrol tanpa merasa bersalah, orang Singapura betul-betul makan buat makan. Begitu makanan habis, mereka buru-buru pergi untuk mempersilakan pelanggan lainnya.

Orchard Road, Singapore
hainan chicken rice + extra egg, lucky plaza singapore

Ada stall-stall makanan Chinese, Indonesia, Filipina, dan Thailand di foodcourt Lucky Plaza ini. Bahkan ada Rumah Makan Padang lho, jadi nggak usah takut bakal ribet cari makanan halal. Ada juga satu stall makanan Chinese yang memasang tulisan, “No pork, no lard (tiada babi, tiada minyak babi). Gue memilih nasi Hainan dari sebuah stall di pojokan, harganya 7 SGD. Dapet seporsi nasi yang cukup, irisan daging ayam, telur kecap, dan semangkuk sup pok choi yang hangat. Seperti biasa, gue melengkapi pesta kecil gue dengan secangkir kopi-c (Singaporean coffee with condensed milk) seharga 1.7 SGD. Kenyang!

 


Lau Pa Sat, Dekat Merlion Park

Lokasi tepatnya ada di 18 Raffles Quay, nggak sampai 1 kilometer dari Merlion Park. Jadi jangan sedih kalau kamu kelaperan di tengah café-café area Merlion yang bikin dompet kaum proletar bergetar. Sama kayak di Lucky Plaza, Lau Pa Sat atau Telok Ayer Market ini juga merupakan sebuah hawker center (pujasera/foodcourt/medan selera), jadi ada banyak vendor makanan. Masih di hari yang sama dengan kunjungan gue di Lucky Plaza, anehnya suasana di Lau Pa Sat cenderung sepi. Mungkin karena dia masih lebih populer sebagai tempat makan warga lokal daripada tempat makan turis.

lau pa sat hawker center, singapore, has a pretty-looking
2 meats + 1 vegetables package, lau pa sat

Ada makanan melayu, Thailand, sampai makanan Korea di Lau Pa Sat. Gue memilih salah satu stall yang wujudnya mirip warteg atau warung nasi rames karena tergoda harga murahnya, hehe. Untuk paket 3 sayur, harganya nggak sampai 4 SGD. Gue memilih paket 2 meat 1 vegetables dengan harga 4.8 SGD. Kalau mau pilih lauk satuan juga bisa, tinggal tunjuk-tunjuk kayak di warteg. Oh ya, katanya Lau Pa Sat buka 24 jam!

 


Food Republic, Vivo City

Nah, yang satu ini buat kamu yang kelaperan saat mau main ke Pulau Sentosa, atau kebalikannya, habis main-main di Sentosa. Food Republic ada di L3 Vivo City, persis di samping Stasiun Sentosa Express Monorail. Di sini juga ada stall makanan Indonesia atau melayu. Salah satu stall makanan Chinese juga mencantumkan tulisan, “No pork no lard.”

Baca Juga: Cara Hemat Menjelajah Pulau Sentosa Dalam Sehari

food republic, level 3 vivo city
beautiful lanterns at food republic, vivo city

Kami berempat duduk di meja yang ada persis di depan KL Chilli Ban Mee, saat itu antreannya cukup panjang. Akhirnya gue memutuskan beli makan juga di situ karena nggak enak udah duduk di depan mereka. Sebetulnya nggak apa-apa sih mau beli makan di tempat lain, guenya aja yang nggak enakan hehe. Ternyata gue membuat keputusan yang tepat!

kl chilli ban mee, food republic vivo city
my satisfying chilli ban mee, food republic vivo city

Gue memilih Original Chilli Ban Mee seharga 5.8 SGD. Wow, ternyata porsinya lumayan juga, lalu dilengkapi dengan daging cincang, telur setengah matang yang meleleh-leleh, taburan ikan teri, bawang goreng, dan semangkuk sup. Gue lalu tambahin sambel level 3. Rasanya? Enyaaakkkk! Paduan semua komposisinya itu pas banget, gurih-gurih nikmatlah, gue puas banget makan di KL Chilli Ban Mee itu. Tapi monmaap, gue nggak tau apakah makanan ini halal atau enggak.

:peace:

Seperti sebelumnya, secangkir kopi-c panas menjadi pamungkas bersantap siang itu, 1.7 SGD aja kok.

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Singapura (MRT, LRT, Bus, Sentosa Express Monorail)

 


Food Republic, City Square Mall

Ternyata Food Republic itu adalah semacam jaringan foodcourt di Singapura, kalau di Indonesia mungkin semacam Food Hall. City Square Mall adalah sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Little India, tepatnya di 180 Kitchener Road, persis di depan salah satu exit Farrer Park MRT Station. Pilihan makanannya nggak sebanyak di Vivo City, tapi tetep ada pilihan makanan halal. Gue suka konsep desain interiornya, kayak lagi makan di tengah deretan ruko-ruko tua Tionghoa.

chinese-old-shophouses themed food republic, city square mall
city square mall, singapore
1 meat 2 vegetables package, food republic city square mall

Gue makan nasi rames lagi, haha, kali ini paketnya 1 meat 2 vegetables. Yang satu ini nggak terlalu memuaskan sih, tapi tetep mengenyangkan. Harganya 5.8 SGD, aneh ya, lebih mahal dari nasi ramesnya Lau Pa Sat. Apa gue yang salah inget?

:confused:


Mustafa Café, Mustafa Center

Berbahagialah kamu yang kelaperan setelah belanja berjam-jam di Mustafa Center, karena tepat di samping Mustafa Center, bahkan masih nempel di gedung utamanya, ada Mustafa Café yang murah dan halal! Nasi Lemak harganya cuma 4.5 SGD aja dong. Ada 3 potong ayam, telur rebus, teri kacang, dan sambal manis. Mantul, ‘kan? Sayang dia nggak jual kopi, jadi gue beli teh masala panas seharga 1.5 SGD.

mustafa cafe, mustafa center
nasi ayam only 4.5 sgd, mustafa center

Selain nasi lemak, ada makanan-makanan siap saji lainnya kayak burger, chicken fillet, kentang goreng, dll. Meja dan kursinya ditata berjajar di trotoar. Mustafa Center-nya sendiri sih buka 24 jam, tapi nggak tau deh gimana dengan Mustafa Café ini.

 


Killiney, Terminal 1 Changi International Airport

Kalau di Indonesia, Killiney jadi coffee shop kelas middle up, di Singapura ternyata Killiney itu jadi salah satu jujugan tempat makan merakyat. Kedai originalnya di Killiney Road terkenal banget dengan kaya toast-nya yang legendaris. Kebetulan banget, saat itu gue lagi ngidam kaya toast karena rasanya nggak afdol ke Singapura tanpa makan kaya toast. Syukurlah, gue yang tadinya dilemma mau makan kaya toast atau makan berat, akhirnya keduanya bisa terpuaskan karena seporsi mee rebus, kaya toast, dan secangkir kopi-c hanya 8.7 SGD aja dong. Mee rebusnya sendiri 5 SGD, rotinya cuma 2 SGD.

killiney, terminal 1 changi international airport singapore
mee rebus, kaya toast, and hot kopi-c for only 8.7 sgd at killiney

Rasa mee rebusnya memang kurang nendang jika dibandingkan sama mi rebus di Indonesia, tapi yang penting kenyang, hihi. Kopinya nggak seenak yang gue beli di kota, tapi gue tetep suka, rasanya masih bisa masuk.

 


Tentang Kopi Singapura

Mungkin di antara kalian bertanya-tanya betapa seringnya gue menyebutkan kopi dalam cerita-cerita di atas. Gue memang suka banget sama sajian kopi Singapura (juga kopi dan teh Malaysia). Kopi Singapura yang disebut kopi-c ini punya citarasa bittersweet karena campuran kopi dan susu cairnya, bukan manis eneg kayak kopi susu biasa di Indonesia. Dalam sehari, gue bisa 2 kali ngopi di Singapura, haha.

:siul:

Gue jelasin sedikit tentang macam-macam kopi dan teh di Singapura. Di Singapura dan Malaysia, kalau kalian cuma bilang “kopi” dan “teh”, maka kopi dan teh kalian akan datang dengan campuran susu karena itu standar penyajian di sana. Terus gimana kalau mau kopi tanpa susu? Kopi tanpa gula? Kopi tanpa kenangan? #eh. Ini dia beberapa istilahnya:

  • Kopi: kopi hitam dengan susu kental manis (condensed milk) dan gula
  • Kopi C: kopi hitam dengan susu encer (evaporated milk) dan gula
  • Kopi O: kopi hitam dengan gula tanpa susu
  • Kopi Kosong: kopi hitam tanpa gula dan tanpa susu
  • Kopi C Kosong: kopi hitam dengan susu encer tanpa gula
  • Kopi O Kosong: kopi hitam dengan susu kental manis tanpa gula.

Hal yang sama juga berlaku buat teh, cuma kalau buat teh ada tambahan varian: teh Tarik.

Makanya, pas kami belanja di Mustafa Center dan gue kebetulan papasan sama bagian kopi-kopian, gue memutuskan buat beli 1 pak Nescafe Kopi-C seharga 6.5 SGD, 1 pak kecil teh Tarik seharga hanya 1.4 SGD, dan 1 pak kecil kopi hitam Vietnam seharga 2.5 SGD. Total harganya 10.4 SGD aja, hehe. Sebetulnya ada banyak banget produk kopi susu dan kopi 3in1 yang dijual, tapi gue nggak yakin apakah rasanya sesuai sama yang gue harapkan. Daripada salah, ya udah, pilih yang terang-terangan menyematkan kata “kopi-c” di kemasannya.

a cup of hot coffee-c, killiney changi airport
what i got for 10.4 sgd from mustafa center, singapore
(nggak termasuk sirup abc ya, haha)

Kopinya enak! Walau nggak persis sama dengan yang gue coba di kedai-kedai Singapura dan 2 temen kantor gue bilang nggak enak, tapi buat gue okelah. Kopi hitam Vietnam-nya belum coba. Tapi teh Tarik-nya nggak enak blas, haha. Yah, ada harga ada rupa.

:ngakak:


Dari ketujuh tempat di atas, ada yang udah pernah kamu coba atau minimal pernah denger? Suka sama kopi Singapura juga nggak? Mudah-mudahan tulisan gue kali ini bisa membawa pencerahan bahwa makanan di Singapura itu murah dan banyak pilihan halal tersedia, bahkan dari tempat makan Tionghoa sekali pun. Oh ya, banyak yang cerita tentang Staff Canteen di T1 Bandara Changi yang harganya murah banget dan rasanya enak, tapi gue belum pernah coba. Kamu udah? Share di kolom komentar, dong.

Ngomong-ngomong, yang mau gue pandu backpacker-an ke Singapura juga silakan lho kontak gue di email atau media sosial. Pesertanya minimal 3 orang biar enak kalo sesekali perlu naik Grab. Monmaap, demi kenyamanan bersama, nggak menerima peserta anak-anak atau lansia. Gue nggak menjanjikan kenyamanan, tapi gue janjikan pengalaman #asek. Keep learning by traveling…

Iklan

44 tanggapan untuk “Pengalaman Makan Murah di 7 Tempat Singapura”

  1. ya ampuuunnn…baca rekomendasi tempat makan dari kakak, bikin perut aku keroncongan. Terlihat endols semua…, syukurlah saya bukan muslim yang taat, mau pork atau gak , ya asal enak di lidah dan aman buat perut ai yang selalu lapar saat perjalanan, ditambah harga yang pas di kantong. why nut?!

  2. Tau dari mana gie kalo mbak-mbak yang “susah diusir” itu orang filipin? kan muka mereka mirip banget sama muka indo hahaha. BTW gue penasaran sama kopi singapore nya, produk nescafe yah, di tokped ada yang jual kaga yah?

  3. Lengkp sekali ulasannyaaaa syalala bikin lidah mulai dikasih aba-aba bergoyang, apalagi lihat menu-menu nasi lemak sama mee rebus, kaya toast, and hot kopi-c. Huhuhu.

  4. Singapore emang surga kuliner. Tapi mesti pilih2 soalnya harganya Mahal. Assik jg Ada rekomendasinya gini. Btw kalau mau sarapannya murah di resto2 India Ada nasi lemak dibungkus kerucut pake kertas cuman $2 ajah

  5. Ahahah, sebagai pemakan segalanya, alias omnivora alias tidak oeduli halal atau tidak, gue gak pernah ada masalah makan di Singapura.

    Klo makan di singapura, gue selalu cari yg punya india. Kenapa? Porsinya jumbo dan harganya gak mahal. Salah satu Favorit gue itu Adam’s corner, gak terlalu jauhlah dari mustafa center

  6. Bagus nulisnya, Nug. Gw nggak tahu lho bedanya kopi Singapura dengan kopi lain sebelumnya. Gw kirain mereka jualan kopi cappucino aja biasa. Besok-besok, kalau gw ke restoran Melayu, gw akan lebih jeli lihat kopi C-nya deh 🙂

  7. Pertama kalinya aku ke Singapur waktu itu sama temen2 blogger nyobain makan siang di Lucky Plaza pas Hari Minggu. Penuuuuhhh pake bingits susah cari kursi n meja. Ternyata iya ya hari liburnya para TKI hhmm…. setelah muter2 akhirnya mamam di rumah makan ayam penyet wkwkwkwk soalnya ga ada pilihan lain. ini pun nunggu sebentar. Boleh nih review mas Teguh buat kon2 kali aja ke Sin lagi. Makan murah kantong ga bolong ya 🙂

  8. Hahaha banyak yang bilang, liburan ke Singapur itu sebenernya memang murah sih ya. Tapi ya itu… semua tergantung gimana orang ngeplanningnya wkwkw. Kalau planningnya nggak bener, liburan ke Trenggalek aja bisa keluar jutaan *lah, ngapa jadi kesini dah.

    Wahaaaa, Nasi Rames pun ada di Singapur. Fix ah, otewe ke sana langsung.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.