Berkenalan dengan Yangon International Airport, Myanmar

Akhirnya, setelah gagal menjejakkan diri di bumi Sultan Hassanal Bolkiah, Brunei Darussalam, pada April 2017, thetravelearn akhirnya berhasil menancapkan sauhnya di The Land of Gold — Myanmar. Meski hanya 3 hari, dan meski hanya mengunjungi Yangon, namun gue tetap antusias dengan perjalanan #SuperTrip yang ketiga ini. Jadi, izinkan gue memulai cerita perjalanan ini dengan sesuatu yang akan kamu temui begitu mendarat di bekas jajahan Inggris ini: Yangon International Airport (Bandara Internasional Yangon).

Karena Myanmar masih menjadi destinasi anti-mainstream bagi wisatawan Indonesia, maka sebagian tulisan tentang Myanmar ini akan gue tulis dalam bahasa Inggris. Tergantung dengan siapa yang menurut gue lebih membutuhkan informasi itu. Untuk tulisan pertama seputar bandara ini, gue mau membagikannya for my Indonesian fellow travelers πŸ˜€

Baca juga: Selayang Pandang Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2

 

Informasi Dasar Bandara Internasional Yangon

Kode untuk Yangon International Airport adalah RGN, yang merupakan abreviasi dari nama lama Yangon: Rangoon. Bandara ini memiliki 3 terminal. Yang digunakan untuk penerbangan internasional, dan yang terbesar, adalah Terminal 1. Di Terminal 1 inilah, dengan maskapai penerbangan AirAsia, gue mendarat dan lepas landas.

Kesan pertama begitu mendarat di bandara ini adalah: biasa saja. Gue dan para penumpang berjalan memasuki bandara melalui garbarata, lalu menyusuri sebuah selasar yang dilapisi penutup lantai berwarna cerah yang empuk. Cukup elegan lah. Selasar atau lorong itu diapit oleh dinding kaca, dengan bagian kiri merupakan Ruang Tunggu (Boarding Room) untuk para calon penumpang.

konter check-in bandara yangon

papan petunjuk bandara yangon dalam bahasa inggris dan myanmar

Sayangnya, lalu lintas kurang diatur dengan baik. Saat kami masih berada di dalam lorong, ada satu Gate yang membuka pintunya dan membiarkan calon penumpang menyeberang lorong memasuki garbarata. Nggak ricuh sih, tapi kurang rapih aja.

Baca Juga: Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng

 

Nggak Ada Semprotan Air di Toilet Bandara Yangon!

Oke, bagian ini harus gue tulis dan harus gue beri judul yang sangat-sangat jelas karena ini adalah hal yang krusial bagi orang Indonesia! Gue mendarat di Bandara Internasional Yangon dengan perut mulas setelah menyantap karipap dan secangkir kopi hitam panas di dalam pesawat AirAsia. Usai menuntaskan hajat, gue baru sadar bahwa toilet ini nggak dilengkapi dengan semprotan untuk pantat. Ada tisu, tapi nggak ada tong sampah. Rasanya pengen koprol aja nggak sik?

Nggak, Gie. Cuma pengen teriak panik aja sambil muterin tiang listrik.

Urinor-nya akan mengalirkan air secara otomatis setelah kita selesai membuang air. Keran wastafel juga akan menyala otomatis saat kita menempatkan telapak tangan di bawah lubang keran. Sabun juga menetes otomatis dengan cara yang sama. Secara umum, toiletnya cukup bersih dan cukup terfasilitasi, melihat adanya toilet khusus untuk kaum disabilitas (orang kurang upaya) atau orang tua.

toilet pria bandara yangon

urinor bandara yangon toilet pria

wastafel bandara yangon toilet pria

Terus gimana gue menuntaskan urusan percebokan di Bandara Yangon ini? Soal itu, cukuplah hanya gue dan Tuhan yang tahu hahahahaha.

Baca Juga: Bandara Kualanamu Medan Dalam Bidikan Kamera

 

Imigrasi, Money Changer, dan SIM Card di Bandara Yangon

Imigrasi Yangon International Airport lengang saat itu. Sebagian besar penumpang AirAsia rupanya adalah warga lokal Myanmar sendiri. Paspor dicap bersamaan dengan Immigration Form yang sudah kita isi. Warga Negara Indonesia diperbolehkan mengunjungi Myanmar tanpa visa hingga 14 hari. Ingat, 14 hari aja.

Kalau nggak salah, cuma ada 3 Belt ukuran sedang untuk bagasi di Arrival Hall, jadi nggak akan susah menemukan barang-barangmu.

Keluar dari Arrival Hall, gue disambut dengan sebuah aula memanjang tempat sopir taksi dan warga lokal yang mengenakan longyi berkerumun. Ada beberapa konter Money Changer, ATM, dan gerai SIM Card lokal. Gue pun menukarkan sisa Malaysian Ringgit untuk Myanmar Kyat, sementara lembar-lembar USD sudah tersimpan rapi di dalam tas.

duty free shops di bandara yangon

duty free shops di bandara yangon

Ada 2 penyedia jasa telekomunikasi utama di Myanmar: Ooredoo dan Telenor. Gue memilih opsi pertama yang juga udah lebih familiar, hehe. Ada banyak paket yang ditawarkan dan semuanya murah-muraaahhh! Gue memilih paket SIM Card perdana seharga 4500 Kyat (kurang lebih Rp 45.000) yang udah terisi internet 2GB 4G, masa aktif 1 bulan, namun tanpa telfon. Petugas di gerai SIM Card bisa berbahasa Inggris, tapi logatnya susah dipahami hehe.

Baca Juga: Menjejak Bandara Silangit, Siborong-Borong

 

Transportasi Dari dan ke Bandara Yangon

Salah satu kekurangan Yangon International Airport adalah aksesibilitas. Ada bus kota, tapi harus 1 kali transit. Mempertimbangkan koper, petugas dan warga yang nggak bisa berbahasa Inggris, dan sistem jaringan yang kurang baik, rasanya nggak disarankan buat naik bus dari bandara ke pusat kota untuk orang yang baru pertama kali menjejak Yangon. Maka, mau nggak mau, taxi is our best bet.

Tarif taksi dari bandara Yangon ke pusat kota biasanya 10 USD, tapi gue berhasil nawar sampai 9 USD aja. Biasanya, mereka akan membuka harga di angka 12 USD, daaannn yang pertama kali kami jumpai di Arrival Hall bukanlah sang sopir sendiri, tapi orang lain yang dibayar untuk mencarikan penumpang. Sebelum kami masuk ke dalam taksi, bapak-bapak itu menadahkan tangan meminta tip. Huft.

Sebaliknya, tarif taksi dari pusat kota ke bandara Yangon sedikit lebih murah. Dari hostel gue di kawasan Sule Pagoda, ada taksi yang membuka penawaran dengan hanya 8.000 Kyat (8 USD aja). Gue tawar, dan sepakat di harga 6.000 Kyat, tapi taksinya nggak pakai AC sih.

Perjalanan dari bandara Yangon ke pusat kota dan sebaliknya biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit dengan lalu lintas normal. Kalau macet, seperti yang gue alami dalam perjalanan menuju pusat kota Yangon hari Jumat pagi itu, lama tempuh bisa mencapai 1 jam bahkan lebih!

 

Tempat Makan di Bandara Yangon

Nah, kalau kesan pertama pada saat kedatangan (18/08/2017) adalah biasa-biasa aja, bandara Yangon akhirnya berhasil memikat gue saat penerbangan kembali ke Kuala Lumpur (20/08/2017). Setelah melalui Security Check Point, gue langsung tertumbuk pada sebuah gerai makan cepat saji yang familiar dengan warna merah itu: KFC. Ada KFC di bandara Yangon!

Selain KFC, ternyata bandara Yangon ini juga punya The Coffee Bean and Tea Leaf, Burger King, Thai Express, dan beberapa tempat makan lainnya. Selain itu, setidaknya ada 2 gerai MyNews.com (jaringan convenience store Malaysia) dan sebuah gerai Myanmar Convenience Store. Jadi, jangan khawatir sama isi perut kalau belum diisi sebelum berangkat ke bandara.

mynews.com di bandara yangon

thai express dan burger king di bandara yangon

cafe craft di bandara yangon

the coffee bean and tea leaf di bandara yangon

kfc di bandara yangon

gong cha di bandara yangon

Ah, gue jadi nyesel udah nuker semua Kyat dan USD ke Ringgit, kelaperan di bandara deh…

 

Boarding Room di Bandara Yangon

Di luar dugaan, Yangon International Airport rupanya punya ruang-ruang tunggu yang lega dan eye-catching! Kursi-kursi diguyur dengan warna-warna cerah yang berbeda-beda, di atas pelapis lantai empuk yang berbalut skema warna kebumian. Untuk keberangkatan kembali ke KLIA, gue ada di Gate 8. Ruangan itu dilengkapi dengan colokan listrik, TV, dan dispenser gratis dengan gelas.

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

ruang tunggu (boarding room) bandara yangon

Oh iya, bandara Yangon juga punya Duty Free Shops yang cukup menggoda dengan potongan harganya.

Dari rentang 10, gue memberikan nilai 7 buat bandara ini. Yangon International Airport sudah dirancang dengan nyaman, luas, modern, dilengkapi fasilitas memadai (tempat makan, ATM, Money Changer, gerai SIM Card). Kekurangannya, ya itu tadi, they should have Β a better toilet, providing water to splash our butt. Oh, dan tentu saja, providing a rail based public transportation that connects to city center would be great! Jadi, kapan kamu mampir ke Yangon? πŸ˜€

Iklan

88 komentar

  1. Yang susah itu aksesnya ya mas.
    Apalagi bagi touris, harus naik taksi deh kalo kayak gitu.
    Tapi bandaranya kayaknya asyik.

    1. Iya harus naik taksi, mas. Semoga nanti ada kereta atau minimal bus bandara πŸ™‚

      1. Informatif. Mau nanya,
        1.bus ke bandaranya mulai beroperasi pukul berapa?
        2.Taxi di pusat kota Yangoon, beroperasi 24 jam kayak di jakarta nggak. Soalnya penerbangan ke kl pagi sekitar pukul 8.
        3 . airport nya punya space nggak buatbisa diinapi backpacker nggak ya?

      2. 1. Gak ada bus bandara, mbak. Maksudnya mungkin bus kota kali ya. Nah itu saya nggak tau hehe, saya selalu bangun siang πŸ˜€
        2. Iya 24 jam, tapi coba besok pastiin lagi mbak
        3. Ada mbak, di bangku-bangku waiting room paling

    2. Terakhir saya ke Yangoon Oktober 2018 sudah ada bus airport. Standby gak jauh dari Sule pagoda. Kalau di air port, ke kiri dari pintu kedatangan. Bayar uang pas 500 kyat. Di Sule bus mulai pukul 6 pagi, dan datang setiap 1 jam.

      1. Wah, good news. Terima kasih atas tambahan informasinya mas.

  2. Cakep bandaranya.
    Dan kebersihan toilet adalah salah satu indikatornya.

    1. betul betul betul, untuk pertama kalinya aku berani foto toilet di tempat umum karena sepi hahaha

  3. Mending nahan b*k*r deh kalo nemu toilet semacam itu hhhaa
    Tapi slain itu,mantep juga nih bandara.Bersih,rapi,dan tertata

    1. Duh, kalo nahan boker takutnya nanti malah sakit perut 😦

  4. Sumpah gua baca ini pengen ngakak pengalaman nista di bandara ini.

    Jadi dari terminal gua duluan ke bandara dan teman teman ke pasar. Dalam keadaan kebelet boker gua bawa 2 koper dan 2 ransel. Setelah proses pindai gua lari lari dorong troli cari tempat boker. Dan Nistanya , penuh. Rasanya udah kaya mau beranak ini.

    Akhirnya setelah lari sana sini dapat toilet kosong dan nyatanya udah nggak Ketahan , gua boker di celana.

    Dan pas udah buka celana sadar nggak ada aer , ya udah gua pasrah celaan dalam gua buang.

    1. MAS DANAAANNNN, NISTA BANGET ITUUU HAHAHA.

      Tapi bener ya, toiletnya gitu banget 😦

      1. Itu bandara arsitekturnya orang Indonesia itu bandara

      2. Iya nggak sengaja aku ketemu dengan arsiteknya yang udah 3 tahun di sana , makanya kalau diperhatikan bandaranya seperti bebrapa bandara di Indonesia

      3. Iya sih mas kalo diperhatikan

  5. Dry toilet, nih ya? Tapi bersih juga tuh, cuma buat yang nggak biasa tanpa air bakalan gimanaa gituu πŸ˜€

    1. Iya bersih, cuma kurang penyemprot aja haha

  6. setuju, dari tulisan dan foto nugie, bandara ini lumayan bagus, nilai 7 cocok untuk range 1-10. yup, aku setuju banget dengan toiletnya yang mungkin perlu disesuaikan lagi. duh ga ganyaman banget kalo sampe BAB di bandara itu ya

    1. Iya, kak. Udah bagus, tinggal toilet sama transportasi hehe

  7. Wah, masih belum bisa bayangin gimana caranya cebok tanpa semprotan air. Dalam kondisi darurat, apa yang terjadi terjadilah ya Kak, hahaha

    1. Mari nyanyikan: “Walau apa yang terjadi, terjadilah…”

  8. Sebenernya airport itu paling utama akses transport ke kotanya yah, sama seperti Bandung bandaranya bikn kzl ga ada kendaraan lain selain taksi. Btw toiletnya Australian style banget, ceboknya pake tissue πŸ˜€

    http://www.irhamfaridh.com

    1. Iya bener! Secara bandara jauh dari mana-mana. Bandara Bandung mending ya, deket sama kota, apalagi sama kost gue hahaha

  9. Hendi Setiyanto · · Balas

    urusan cebok mencebok memang jadi pengalaman unik ya? wkwkwk tapi bandara bagus juga

    1. Hehehe. Lumayanlah bandaranya.

  10. Komen gw mah, satu aja gi.. Lo rajin amat nulis bandara. Salut.. Kalau aku niat doang..dikerjain kagak…

    1. hahaha makasih, kak Vik.

  11. keren yaa… kayaknya waktu kesana dulu penampilannya belom kayak gitu deh, jadi mesti balik lagi ya Nug?

    1. Dari blog-blog yang kubaca dulu kayaknya emang nggak kayak gitu ya dulu. Terus kemarin aku liat dia masih pembangunan juga.

  12. I thought you would write this post in English.. hehehe..
    Kalo mengenai toilet, sepanjang pengamatanku, cuma di Indonesia, Malaysia, Brunei, sama negara2 Timteng n Turki aja yg ada semprotannya.. tpi gtw di Thailand, Vietnam, n Kamboja. Wktu itu ga sempet ke toilet yg di bandaranya.. hehehe.. kalo bandara di Jepang malah lebih advance lg toiletnya..
    Ni termasuk bandara yg pengen aku kunjungi jg..
    Pengen juga bikin tulisan ttg bandara2, sayangnya pas ke bandara jarang foto2.. 😩😩😩
    Btw mas, klo suka mengunjungi bandara2, coba kunjungi web jetitup.com

    1. Di Singapura juga ada, mas. Nah, karena masih deket sama Indonesia, jadi kupikir di bandara Myanmar ada semprotannya juga hehe.

      Hehe, minat tiap orang beda-beda sih. Sebagian besar emang cuma numpang lewat di bandara.

      1. Oiya di Singapur juga ada..

  13. Ouwoooo, komplet banget! sama kayak di Shuvarnabhumi ya, gak ada selang semprotnya. Gak nyaman banget setelah menuntaskan hajat di sana, walaupun udah dielap pake tisu berkali-kali sampe lecet muahaha.

    Bandara Yangoon kecil, tapi okelah. Sekilas liat kursinya sungguh nggak baringable ya.

    1. Ooo di BKK nggak ada semprotan juga ya? Aku 2 kali ke Bangkok, semuanya di DMK.
      Ya ampun jangan sampai lecet, kak. Itu aset 😦

      Muahahaha (((baringable))). Karpetnya baringable kok πŸ˜€

      1. Iya, pas banget dulu kebelet pas mau pulang. Sampe di CGK langsung cebok dan ganti kancut hwhwhw. Sempet nanya sama pekerja di sana, siapa tahu ada toilet khusus karyawan yang ada airnya, tapi kendala bahasa.

        Ya ya ya bisa juga sih baring di karpetnya. Cuma aku kan takut kesedot vacuum cleaner.

    2. Wah, itu vacuum cleaner-nya segede apa coba sampai kamu kesedot :O

      1. Gak gede-gede amatlah. Aku kan langsing.

      2. gak akan percaya sebelum liat langsung

      3. Hwhw siapin kacamata hitam πŸ˜€

  14. Bandaranya bagus juga yaa. Fasumnya juga lengkap. Kecuali transport dan semprotan itu hahaha.

  15. Duh Myanmar ini udah dari jaman SD jadi tujuan buat liburan! Dulu sih ingetnya negara ini namanya Burma.

    Naik taksi ke lokasi penginapan 9 USD mas? hmmm mayan siiik yah.
    Kalau mau naik bis, leh uga siiik *kalo mau punya pengalaman lebih. *terus aku bingung kalo kesana nanti mau naik bus atau taksi dari bandara wkwk.

    Anyway ditunggu cerita lainnya mas Nug!

    1. Hai, Raisa.

      Eh kenapa pengen ke Myanmar nih? Dari SD lagi, sementara anak-anak lainnya kayak gue mimpinya ke Jepang hehe.
      Iya lumayan, makanya jangan sendirian kak. Cari pacar sewaan gih.

  16. Dan penampakan bandara ini sebenarnya di luar ekspektasiku lho Gie. Aku pikir bakal lebih ‘kuno’, ternyata lumayanlah untuk ukuran negara yang masih baru-baru stabil dan kadang gak stabil πŸ˜€

    Btw, ada info gak kalau kemalaman bisa tidur dengan aman di bandara ini atau tidak?

    1. Sama, mas. Aku juga nggak ngira bakal sebagus ini. Dari segi desain sih bagusan ini daripada Don Mueang menurutku.

      Nah, aku belum ada info untuk itu πŸ˜€

      1. Serius? Wah ,,, btw untuk ukuran bandara berumur 100 tahun lebih Don Mueang bagus sih.

      2. Iya sih. DMK terawat dan fasilitasnya cukup, cuma toiletnya pas gue coba agak pesing wkwk

      3. Hahaha beda pengalaman berarti ya. Pas aku ke sana sih baik-baik aja πŸ™‚

      4. Beda timing juga kali hehe

      5. Bisa jadi Gie. Soalnya pas aku ke sana terakhir kali, itu bertepatan dengan ulang tahun bandara Don Mueang yang keseratus tahun. Jadi yaaa, lagi bagus-bagusnya πŸ˜€

      6. Oh pantes haha. Gue datang bareng segambreng turis Tiongkok, ngantri 2 jam di imigrasi.

  17. Aku kangen dengan bandara ini. Waktu ke Myanmar cukup lama nongkrong-nongkrong cantik di dalamnya. Menikmati KFC dan menunggu money changer stock dolar Amerika saat hendak meninggalkan Yangon. Sekalipun dan sepertinya Myanmar Tertinggal sedikit pembangunannya dari Indonesia, lalu lintas tempat ini jauh lebih teratur. Tempat dan orang-orangnya bikin kangen

    1. Jalan-jalannya berisik, mbak. Pada nggak sabaran. Nyeberang jalan diklakson, pelan dikit diklakson, udah tau macet masih klakson-klakson, hahaha.

      Tapi, aku bertekad mau ke Yangon lagi dan semoga bisa mampir ke Mandalay. Ada beberapa tempat yang kemarin belom kesampaian.

  18. bandaranya nggak kelihatan kayak bandara ya. lebih mirip mal.
    obyek favoritku kalau ke bandara itu melihat konstruksi bentang lebarnya yang kelihatan di foto pertama yang ada eskalatornya itu. kalau di Indonesia banyak yang lengkung2nya itu. etapi kalau di google kan ada bandara yangon yang depannya kayak istana itu di mananya ya?

    1. Nah iya. Di tulisan-tulisan lama soal Yangon, bandaranya memang kayak gitu. Tapi kayaknya kemarin dari depan aku nggak liat. Apa udah diganti ya? Karena ada proyek juga sih.

  19. […] Yangon International Airport, we grab a taxi for 9 USD, the normal price is 10 USD. Going back to the airport charged 6.000 Kyat […]

  20. Apalah artinya bandara yang super futuristik kalau tak ada semprotan air buat cebok T.T

    1. Aku syok Raline Shah ikutan ngomen di sini!

      iya, karena semprotan air adalah kebutuhan hakiki untuk buang air yang komprehensif.

  21. semoga dengan membaca tulisan tentang bandara Yangoon ini, aku bisa ikutan menjejakkan kaki di sini, karena Myanmar jadi bucket list aku

    1. amiiinnn. realisasikan! πŸ˜€

  22. Saya jadi gagal fokus dengan kalimat Tidak ada semprotan air…duh pasti panik tuh bagi orang Indonesia yg kesehariannya terbiasa dengan air.

    1. Dan biasanya ini baru diketahui kemudian setelah selesai hajat, hahaha.

  23. Bandara kita yang sekarang rupanya ngga kalah ya..bangga juga setelah melihat bandara yangon mirip2 soeta

    1. Kebangetan kalo sampai kalah, bang. Secara Myanmar ini negara yang perkembangannya di belakang Indonesia.

  24. […] Yangon is best reached by plane from Kuala Lumpur or any South East Asian cities. I took AirAsia for my trip on August 18th and 20th with a reasonable price, about USD 30 – 40. I’ve heard some issues about entering Myanmar by land from Thailand or Bangladesh, so I don’t recommend you to enter the country by land. Also, taking a flight saves your time and energy. Baca Juga: Berkenalan dengan Yangon International Airport, MyanmarΒ  […]

  25. Toiletnya gitu amat yak, bang? duh… duh… duh…

    1. Iya, persiapkan dengan baik wkwkwk

      1. waduh, serasa gelap seketika dunia ini, bang. duh… duh… duh…

  26. […] sebaliknya aku percayakan kepada AirAsia, sementara Malindo Air menjadi tungganganku untuk mencapai Bandara Internasional Yangon dari Kuala Lumpur dan […]

  27. Bandaranya cakep, bisa bobo bobo manja di sekitar bandara nggak ya kalo ambil flight late night? Jadi pagi baru ke pusat kota? Eh susah juga ya kalo apa-apa harus pakai taksi. Disana ada grab car atau uber gitu gak?

    Regards,
    Dee – heydeerahma.com

    1. Nah itu dia pertanyaan besar kita: aman nggak ya buat bermalam?

      Ada taksi online, tapi kalo nggak salah petanya juga bahasa Myanmar haha. Ada bus kak, terus sebagian besar obyek wisata ngumpul di satu area.

  28. wah ternyata Myanmae juga memiliki bandara yang cukup megah juga yaa,, jadi jika kita kesana rasa capeknya akan terbayarkan dengan kemegahn bandara yang dimiliki,,, eitss tapi jangan lupa asia juga memiliki tempat wisata yang indah – indah kalau ingin tau ayo cek di g-land.asia

    1. bandaranya modern dan fasilitas lengkap!

  29. […] Klik untuk membaca cerita-cerita lainnya di Yangon, Myanmar: Berkenalan dengan Yangon International Airport, Myanmar […]

  30. […] Kami menghampiri seorang pemuda lokal untuk menanyakan di mana lokasi untuk naik bus no. 36. Sempat terjadi kesalahpahaman karena dia mengira kami menanyakan petunjuk menuju Jalan 36. Maklum, di Yangon ini memang banyak nama jalan yang menggunakan nomor, kayak di Kamboja. Kami berhasil kembali di Space Boutique Hostel dengan selamat. Usai sedikit beristirahat, kami lalu berkemas meninggalkan hostel menuju Yangon International Airport. […]

  31. aheeeyyy, makasih yaaa buat info transportasi dari bandara Yangoon…, pas bgt lagi di bandara KLIA nyari inpoh transportasi terbaik dari bandara Yangoon ke hotel.

    1. Sama-sama, mas. Semoga membantu πŸ˜€

  32. detail. kece banget reviewnya. gw sampe bisa bayangin sambil note.. apa yang harus disiapin begitu sampe yanon. thanks

    1. wah, glad you found my review useful. sukses ya, Fitri! πŸ˜€

  33. […] Baca ceritanya di: Berkenalan dengan Yangon International Airport, Myanmar […]

  34. Adi Mariyanto · · Balas

    pas di singapura juga gak ada semprotanya, dry toilet gitu … tapi pas di malaysia thailand kamboja alhamdulillah ada semprotanya semua. btw ke myanmar nya nggak sampe ke bagan sama mandalay?

    1. iya betul, di Singapura juga nggak ada semprotan. Cuma ke Yangon aja mas, nggak sempet ke Bagan sama Mandalay 😦

  35. […] tidak. Gue baru ngeh, di 2 bandara terakhir yang gue kunjungi (Phuket International Airport dan Yangon International Airport, Myanmar) gue selalu foto rest room-nya. Kebetulan kondisinya lagi sepi, jadi gue semakin merasa leluasa […]

  36. […] sama ceritanya Simbok Olenka di mana dia ngotot-ngototan sama petugas imigrasi KLIA saat dia mau ke Myanmar. Petugasnya susah menerima kenyataan bahwa Indonesia bebas visa ke Myanmar, sementara Malaysia aja […]

  37. Fanny Fristhika Nila · · Balas

    aku lg cari info untuk ke myanmar nih … msh lama sih feb 2020… kmrn ga sengaja liat tiket ke myanmar murah pas airasia promo, lgs samber untuk 7 hr ;p… Ga tau deh ini mau kemana aja wkwkwkwk…

    jd aku mau baca2 dulu segala sesuatu ttg myanmar.. :D.. tp pgnnya aku jg ke Bagan ntr.. kamu yangoon doang ya mas

    1. Myanmar memang suka murah, mbak. Tapi cuma dari dan ke Yangon. Ini aja aku dapet Rp300ribuan aja dari KL.

      Iya aku ke Yangon aja. Nah kalo 7 hari bisa ke Bagan sama Mandalay, mbak. Atau Bagan dan Inle Lake. Pokoknya 2-3 kota.

Tinggalkan Balasan ke Menjalani 27 di Tahun 2017: Sebuah Cerita dan Kaleidoskop – The TraveLearn Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places β€œfurther beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: