Pertama Kali Staycation Saat Pandemi di Hotel ASTON Pasteur Bandung

Akhirnya tripod ini bangkit kembali

Setelah 5 bulan menghindari bepergian dan hidup dalam cangkang kamar-supermarket-warungmakan, awal Agustus lalu untuk pertama kalinya gue menginap di hotel lagi. Tetep nggak jauh-jauh, hotel Aston Pasteur Bandung yang berjarak sekitar 1 kilometer dari kost menjadi pilihan. Selain karena dekat, gue juga belum pernah menginap di hotel ini padahal setiap hari (sebelum pandemi) gue wara-wiri di depannya dalam perjalanan berangkat kerja dan pulang ke kost.

Memutuskan untuk kembali staycation saat pandemi berakhir bukanlah perkara yang mudah. Gue berminggu-minggu memikirkan rencana ini, menahan-nahan diri, sampai akhirnya jemari ini meluncur ke laman booking.com untuk melakukan reservasi. Lalu apa yang membuat gue memantapkan hati untuk staycation di hotel?

Gue adalah orang yang cenderung berhati-hati, antisipatif, dan nggak mengambil risiko. Apalagi, ini nyawa taruhannya. Di awal pandemi, gue udah cerita di tulisan ini gimana gue sampe beli kompor, teko listrik, peralatan masak, dan meja-kursi kerja agar gue nyaman dan bisa survive di dalam kamar sendiri. Selama sekitar 3 bulan, gue hampir selalu masak untuk makan sehari-hari dan hanya sesekali dalam seminggu memesan makanan via GOJEK atau membeli dari warung. Gue nggak berani ke mana-mana dan menghindari bertemu apalagi sampe kontak fisik dengan orang lain.

My favorite place at a hotel room | hotel Aston Pasteur Bandung
Gue sendirian nginep di hotel Aston Pasteur Bandung, all pictures are taken by tripod

Sekitar 2-3 minggu sebelum staycation, pikiran gue mulai menunjukkan tanda-tanda tak sehat. Gue gampang emosi, bangun ogah-ogahan padahal udah cukup tidur, dan konstipasi. Ada beberapa hari di mana gue craving for sweets. Hari ini sarapan donat, terus besoknya beli donat setengah lusin. Di beberapa momen saat gue kesal, kepala gue sampe terasa berat, tegang, kayak mau meledak, dengan dada yang juga terasa sakit. Kata Ara, gue mengalami gejala stress. Perlu ditangani segera sebelum bertumbuh jadi depresi.

Setelah curhat sama beberapa temen kantor, kemungkinan penyebab stress gue adalah adaptasi role baru dengan tanggungjawab yang lebih besar yang diperparah dengan minimnya sarana refreshing gue saat ini. Baiklah, memang sudah saatnya gue staycation lagi.


Sebelum mantap memesan kamar di hotel ASTON Pasteur Bandung, gue hubungi dulu akun Instagram-nya untuk menanyakan protokol kesehatan yang mereka terapkan. Setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan, barulah gue lakukan proses reservasi. Oh iya, ini murni menginap dengan bayar sendiri, sama sekali bukan karena endorsement atau kerjasama dengan hotel terkait. Karena lama nggak staycation, feed Instagram gue jadi berantakan dan jelek, jadi gue sadar diri hahaha.

Breakfast in bed, salah satu protokol kesehatan hotel Aston Pasteur Bandung

Gue menginap di hari Kamis – Sabtu dengan pertimbangan bahwa hotelnya nggak akan terlalu rame. Kamar yang gue pesan adalah Superior, tipe terendah, dengan harga di kisaran Rp1,1 jutaan untuk 2 malam / 2 pax sudah termasuk sarapan. So, was the staycation okay as I expected?

Dari segi lokasi, hotel ASTON Pasteur memang bukan di tengah kota, tapi dia dekat dengan Pintu Tol Pasteur. Yang masuk ke Bandung atau sebaliknya via Tol Pasteur, pasti lewat hotel ini. Di seberangnya ada mal Bandung Trade Center, lalu Paris van Java juga bisa dicapai dengan 10 menit berkendara saat lancar. Di sampingnya ada Jalan Sukagalih yang banyak warung makan, sementara cafe atau coffee shop juga menjamur dalam kawasan yang sama.


Check-In Hotel ASTON Pasteur Bandung

Sekitar jam 12:00-an gue udah sampe di hotel ASTON Pasteur dengan berjalan kaki dari kost. Udah lama nggak ke hotel, gue lupa-lupa inget jam check-in untuk hotel bintang 4, di lembar reservasi juga nggak ada infonya. Kalau hotel bintang 3 ke bawah kan jam 14:00, seingat gue hotel bintang 4 jam check-in-nya lebih cepat. Apalagi ini masih masa pandemi, bayangan gue okupansinya belum banyak.

View dari kamar hotel Aston Pasteur Bandung

Protokol kesehatan hotel ASTON Pasteur benar-benar diterapkan dari sebelum tamu memasuki gedung. Ada petugas hotel yang siap untuk memeriksa suhu tubuh tamu dengan thermo-gun, lalu pintu akan dibukakan petugas lainnya. Begitu sudah berada di dalam lobi… JREEENGGG! Ternyata rame bangeeettt.

Gue nggak tau apakah karena pas lagi ada acara atau emang dasarnya hotelnya udah rame, tapi hampir seluruh seating area di lobi hotel ASTON Pasteur sudah ditempati orang-orang, sebagian di antaranya tentara. Gue melakukan proses check-in dan membayar dengan kartu debit. Seluruh front desk officer memakai masker dan ada glass shield yang membatasi petugas dengan tamu. Ternyata waktu check-in tetap jam 14:00, jadi gue diminta menunggu lebih dulu. Tau gini gue nggak usah buru-buru tadi. Gue merasa nggak terlalu nyaman duduk di dalam satu ruangan ber-AC bersama manusia-manusia itu.

Thankfully, nggak sampe 1 jam kemudian gue udah dipanggil, jadi gue bisa masuk ke dalam kamar. Ternyata di luar sana orang-orang udah santai dan udah jelong-jelong lagi ya.


Fasilitas Kamar Deluxe Hotel ASTON Pasteur Bandung

Sesuai request gue saat memesan online, gue diberi kamar di lantai tinggi (tepatnya lantai 9) dan menghadap ke arah timur ke arah matahari terbit, yang sebenernya kemudian agak gue sesali hehe.

Minibar, slippers, coffee & tea maker facilities | Hotel Aston Pasteur Bandung
Safety box dan storage area | hotel Aston Pasteur Bandung

Kamarnya memang luas, dilengkapi dengan TV besar 42 inch, minibar, coffee & tea maker facilities, slippers, safety box, hanging corner, dan meja-kursi kerja. Dinding yang menghadap timur diisi dengan jendela floor-to-ceiling untuk memaksimalkan city view.

Fyi, seluruh kamar di hotel ASTON Pasteur menawarkan city view karena memang bangunannya tinggi menjulang. Ternyata, sisi timur itu menghadap lahan kosong terbengkalai yang dulunya adalah pusat perbelanjaan Pasteur Hyper Point. Gue jadi clueless sekarang better pilih kamar yang menghadap arah mana. Kalau ditanya arah mana yang menghadap ke pusat kota, ya udah bener timur.

Gue mendapat Queen Bed yang diapit oleh sepasang nakas dan lampu dinding. Sayangnya, ada beberapa kekurangan yang gue temukan di kamar hotel ASTON Pasteur, gue urutkan dari yang paling fatal.

Tempat tidur Deluxe Room hotel Aston Pasteur Bandung
  1. Nggak ada stop kontak di area kerja, gue harus mencabut steker lampu berdiri yang tercolok di dekatnya.
  2. Gue sengaja staycation di hari kerja biar sepi dan gue bisa kerja sambil menikmati city view kayak di Best Western Premier La Grande Bandung atau Brits Hotel Karawang, nyatanya meja dan kursi kerjanya nggak proporsional banget. Kursinya menggunakan sofa rendah, mejanya juga meja rendah sederhana dari material logam dan kaca.
  3. Area kerja ditata serong membelakangi sudut jendela city view, jadi gue nggak bisa menikmati pemandangan kota sambil bekerja seperti yang gue bayangkan.
  4. Tutup teko listriknya sudah copot, jadi kalo gue membuka tutup dengan sedikit tenaga ekstra, teko akan terbuka sepenuhnya dari atas.
  5. Masuk ke area kamar mandi, nggak ada hand towel. Melihat dari lingkaran logam yang kosong itu, kayaknya harusnya ada hand towel.

Selanjutnya ini masalah selera aja sih. Lantainya polos aja, nggak dilapisi karpet atau parket.


Kamar Mandi Hotel ASTON Pasteur Bandung

Dua keunggulan dari kamar mandi di hotel ASTON Pasteur: luas dan dibalut material marmer/pualam yang menghadirkan kesan mewah dan elegan. Kamar mandi dilengkapi dengan sabun cair, sabun bar, shampoo, peralatan menggosok gigi, gelas berkumur, dan hair dryer. Area basah dan area kering dibatasi dengan sekat kaca. Lighting-nya juga bagus, cakep buat foto-foto hehe.

Toiletries hotel Aston Pasteur Bandung
Berbalut marmer dengan lighting ciamik, wastafelnya hotel Aston Pasteur Bandung memang oke

Walaupun shower-nya bukan model favorit gue, at least air panas berfungsi dengan baik. Semburannya nyaman dan mudah diatur. 


Breakfast in Bed Hotel ASTON Pasteur

Salah satu protokol kesehatan yang gue cari adalah layanan breakfast in bed, dan thank God hotel ASTON Pasteur menyediakannya. Males akutu berbaur dengan manusia-manusia yang nggak jelas kesehatannya itu hehe. Tapi kalo mau breakfast in bed, harus bilang dari hari sebelumnya. Setelah itu, petugas akan menanyakan menu dan jam pengantaran. Gue selalu memilih jam 8 pagi, dan dua-duanya petugas selalu sudah nyampe sebelum jam 8.

Ada 3 menu yang bisa dipilih, yaitu English Breakfast, American Breakfast, dan Indonesian Breakfast yang masih dibagi lagi jadi Nasi Goreng dan Mie Goreng, yang lalu masih ada opsi lagi untuk topping-nya. Pagi pertama gue memilih Nasi Goreng dengan English Breakfast, sementara besoknya gue memilih Mie Goreng. Oh iya, karena satu kamar dihitung 2 tamu, jadi gue bisa pesen 2 menu. Kalo gue nginep berdua, ya masing-masing cuma bisa makan satu menu a la carte hehe.

Sesuai pilihan gue, nasi gorengnya disajikan dengan telur ceplok, ayam goreng, dan beef yakiniku. Mantep sih! English Breakfast-nya hadir dengan sepasang roti panggang, omelet, bacon,  potato wedges, dan sosis, sudah termasuk mentega dan beberapa selai. Mie goreng diisi suwiran ayam dan telur dadar besar. American Breakfast hampir sama dengan English Breakfast, cuma bedanya ada buah. Errr, gue nggak tau apakah yang disajikan buat gue di pagi kedua itu beneran American Breakfast sesuai pesanan gue, karena kalo nggak salah harusnya ada pancake.

Nasi Goreng dan English Breakfast hotel Aston Pasteur Bandung

Sementara gue nggak ada masalah dengan makanannya, gue agak kecewa dengan minumannya karena cuma jus jeruk yang rasanya kemanisan. Gue selalu menikmati sarapan pagi dengan secangkir kopi, atau minimal minuman hangat. RedDoorz near Bandung Station (d’Sovia Hotel) aja menyertakan kopi dalam paket sarapannya. Gue sempet minta, tapi lalu diarahkan buat ambil sendiri di bawah hihi.


Selain restoran, hotel ASTON Pasteur juga punya ruang gym dan kolam renang. Tapi karena masih pandemi, jadi nggak gue eksplor kayak biasanya.

Gue udah berniat mencicipi room service-nya. Pilihan menunya nggak banyak dan harganya agak mahal, tapi kayaknya worth the price dengan porsi yang besar dan saat itu gue males keluar beli makan. Mau sekalian foto-foto dan review makanannya. Setelah gue telfon, ternyata bayarnya harus saat itu juga kecuali titip deposit atau open card di resepsionis. Ya ampun kok ribet ya, gue saat itu nggak ada cash sama sekali, alhasil gue jadinya pesen makan dari GOFOOD.

Shower hotel Aston Pasteur Bandung
Hanging corner dan toilet hotel Aston Pasteur Bandung

Sebelum gue akhiri, mau cerita dulu tentang kejadian sebelum check-out. Gue kan males ya keluar jam 12:00, pengen check-out sore aja gitu, gue juga udah bersedia bayar charge. Sayangnya karena saat itu weekend, jadi gue nggak boleh late check-out.


Kesimpulan: Hotel ASTON Pasteur Bandung, Recommended?

Hotel ASTON Pasteur ya nggak jelek juga, harganya masih oke, lokasinya juga strategis, cuma servis dan furniturnya nggak sesuai ekspektasi gue aja. Selama ini gue selalu puas dengan hotel-hotel Archipelago International seperti Favehotel dan Nomad Hostel Kemang (yang sekarang kayaknya udah ganti nama). Favehotel itu buat gue one of the best 3-star hotels in Indonesia! Fasilitas dan servisnya value for money banget, lalu lokasinya selalu sangat strategis. Klik untuk membaca ulasan gue tentang Favehotel Melawai dan Favehotel Palembang.

Pros and cons hotel Aston Pasteur Bandung

Nggak tau apakah semua ASTON begitu, karena ini juga pertama kalinya gue menginap di ASTON. Semoga ke depannya gue bisa punya pengalaman yang lebih baik saat menginap di hotel ASTON Pasteur Bandung dan hotel-hotel ASTON lainnya. Keep learning by traveling~

26 komentar

  1. Enaknya nginep ga diendorse ya gini yahh… bebas menyampaikan pendapat, apa yang kurang dan bisa jadi masukan buat hotelnya atau calon tamu lainnya…

    Meja kerjanya super simple gitu yah, seperti meja lipat di gerbong KA hihihi… Rasanya malah Fave hotel punya meja kerja lebih luas dan kokoh juga…

    1. Iya betul koh, kayak meja lipat di kampus atau kereta. Kaget sih, karena hotel sekelas ASTON biasanya punya meja kerja yang nyaman.

  2. At least cowokku udah jauh berkurang sekarang tingkat stressnya…

    Semoga next ada kesempatan staycation ke Aston yang lain lagi ya beb, biar ada perbandingan

    1. Amin amin, ASTON Palembang ya hehe

  3. Wahh padahal tadinya mau refreshing malah jadi agak keki karena fasilitas dan layanannya enggak sesuai ekspektasi, yaa. Tapi semoga udah segeran dikit, Kak, otaknya, karena udah nginep 2 hari di tempat baru. Hehe. Sama nih aku juga kayaknya lagi mumet banget karena beneran gak ke mana-mana selama pandemi. Mau staycation di hotel deket rumah, tapi belum nemu waktu yang cocok.

    1. Ehehe udah segeran kak, karena pertengahan Agustus dan awal bulan ini staycation lagi 😀

      Kadang waktu perlu dipaksain sih, otherwise nggak akan jadi-jadi. Sibuk betul nampaknya hehe.

  4. Aku malah baru berencana akhir pekan ini mas. Itupun kemarin hasil berburu diskon 9 september. Karena ada pekerjaan dadakan di Rembang, langsung pesan hotel di sana ahahhaha

  5. Jlebnya pas bagian minta kopi dan disuruh ambil sendiri itu haha. Kalau orang hotelnya baca ulasan ini ai mau bilang, “oh come on!” ‘Untungnya’ walaupun sendirian sarapannya bisa minta dobel ya Nug. 😀

    1. Iya huhuhu kopi adalah kunci. Jus jeruknya juga kemanisan karena sirup kayaknya.

  6. Memang kelamaan di rumah bikin sumbu jadi pendek. Apa lagi yang teribiasa jalan-jalan, menetap di rumah itu seperti burung kehilangan sayap. Untungnya ada tempat pelarian ya Mas, staycation. Dan Hotel Aston sepertinya pilihan yang tepat. Mas, tone foto-fotonya cakep banget. Bikin post ini makin menarik ditelusuri dari atas sampai bawah 🙂

    1. Hehe makasih apresiasinya mbak. Lagi memperbaiki diri dengan preset Lightroom 😁

  7. ariefpokto · · Balas

    Baru kepikiran mau staycation tapi masih takut. Tapi setelah baca ini jadi kepengen lagi. Perlu sih mengganti suasana. Breakfast nya Aston memang OK. Jadi inget pas nginep seminggu di Aston Madiun. Kangen breakfast yg buffet gitu lho Gie. Udah Lama banget . Skrg rata2 diantar ke Kamar ya buat keamanan

    1. Yang masih buffet juga banyak mas, ini Aston juga ada buffet breakfast buat yang mau, tapi tetap menyediakan breakfast in bed.

      Gaaasss staycation lagi

      1. ariefpokto · ·

        Rencananya akhirn Sept atau awal Oktober mau staycation. Liat situasi PSBB.

  8. Beberapa kali nginep di Aston, ngerasain bahwa hospitalitynya masih harus ditingkatkan Nug, terus memang harga makanan berasa lebih mahal dari setingkatnya. Ya ada plus-minusnya sih, Meja kerja kecil mungkin memang Aston yang ini utamanya bukan untuk business hotel, tapi leisure yang tidak perlu meja kerja yang luas. Anyway pas leisure. juga perlu meja yang lebih luas buat naro makanan hahahaha…

    1. Kalo akomodasi tipe resor atau homestay aku bisa paham mejanya nggak proporsional mbak. Cuma untuk tipe hotel dan lokasinya di kota, menurutku tetep sebaiknya meja yang proporsional 😀

      Semoga kalo ada orang ASTON yang mampir masukanmu soal hospitality dibaca mbak hehe. ASTON mana btw?

  9. Ruli Retno Mawarni · · Balas

    Wah aku suka banget review jujur gini, gak melulu bagus2nya aja. Aku ada rencana mau staycation di aston yg ada di kotaku, apakah akan sama kaya gini aku jd ada sedikit gambaran

    1. Di Kalimantan ya kak? Nanti ceritain gimana Aston di sana ya hehe

  10. Obat stress paling ampuh emang staycation. Bulan Juli lalu juga udah staycation di Bogor. Biasa anak anak diajak semua. Jadi sewa dua kamar. Dan mayan jadi fresh sih.

    Makanan masih diantar ke kamar semuanya. Belum ada yang bufet di restoran.

    1. Betul mbak, staycation itu pelarian yang cepat, hemat, tapi nikmat

  11. Kelamaan terkurung di satu tempat emang bikin emosi terganggu yaaaa. Ahahaha. Trus abis lama menyendiri, tiba-tiba ketemu orang rame-rame juga bikin nggak nyaman.
    Anyway, seperti biasa ulasanmu detail dan menjawab pertanyaan seputar hotel tujuan. Semoga orang hotelnya baca ya, jadi bisa tahu masukan dari kamu.
    Semoga bisa bandingin dengan hotel Aston lainnya juga.

    1. Hahaha maklum yang biasanya kelayapan 😁

  12. Asyik ya klo ada tulisan ‘tidak endorse’. bisa puas membandingkan dengan lain dan teraang-terangan aja gitu review-nya.

    Bicara soal selera, saya sukanya menginap di hotel dengan lantai yang dilapisi karpet dan ternyata Aston Pasteur ini tidak dilapisi karpet ya?

    Kebiasaan untuk jalan lalu terkungkung sekiaan lama memang bikin stress banget. Aku pun awalnya staycation dulu di bulan Juni dan Juli, baru AGustus berani naik gunung, itu pun di hari biasa (bukan weekend)

    1. Aku pengen juga naik gunung tapi nggak ada yang ngajakin lagi hahaha.
      sebenernya pas endorse juga bebas, cuma bahasanya perlu diatur, kalo nggak endorse gini mau pake bahasa harsh juga nggak masalah wkwkwk

  13. Lhaaah..meja kerjanya kok gitu ya? Hihi..
    Yg penting sudah melepas stress ya, semoga sudah seger lagi. Oya, foto2nya selalu ok nih! 👍

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Khairunnisa Siregar's

Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow

Jilbab Backpacker

Travel - Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Catatan Perjalanan, Ulasan Tempat, dan Daily Blog

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

aryantowijaya.wordpress.com/

Tiap Perjalanan Punya Cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. Kuy, der!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Indonesia

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Travel Vlogger Indonesia

Travel Vlogger Indonesia, menginspirasi lewat travel vlog Indonesia, berbagi informasi liburan dan vlog jalan jalan!

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: