Cerita Tentang 7 Kereta Bandara di Asia Tenggara

With Tuan Vu, a fellow Quoran from Vietnam

Gue sangat antusias saat mendarat di sebuah bandara yang baru pertama kali gue jajaki. Dari titik memijakkan kaki hingga sampai di bagian transportasi umum, gue mengamati sebanyak mungkin hal, mengambil foto sudut-sudut yang menarik atau penting untuk diketahui, dan nggak jarang gue berjalan sedikit (atau sangat) melenceng dari jalur yang seharusnya karena tertarik dengan sudut-sudut bandara.

Makanya, gue biasanya kasih estimasi waktu minimal 2 jam dari waktu gue mendarat sampai akhirnya berangkat ke pusat kota. Nggak jarang baru 3 jam kemudian gue cabut kalau ada banyak hal menarik di bandara atau… gue nyasar.

Moda transportasi bandara apa pun menarik buat gue, entah itu bus (yang modern ya, bukan omprengan) atau kereta api. Tapi berhubung gue adalah seorang rail enthusiast, maka di tulisan ini gue akan membahas kereta-kereta bandara di Asia Tenggara + Hong Kong.


Kereta Bandara di Singapura

Sebagai kota termaju di Asia Tenggara, gue memang selalu menempatkan segala sesuatu tentang fasilitas negara kota ini di urutan pertama, hehe. Kereta yang menghubungkan Bandara Changi dengan pusat kota Singapura bukanlah kereta khusus bandara, namun MRT (mass rapid transit). Lebih tepatnya lagi adalah East West Line atau jalur hijau.

Ini memang bukan MRT Green Line yang dimaksud, tapi kurang lebih seperti inilah keretanya. Ini adalah MRT North East Line (Purple Line)

Jalurnya panjang membentang dari Tuas Link di ujung barat hingga Pasir Ris di ujung timur. Di Stasiun Tanah Merah jalurnya bercabang 2, di mana cabang kedua berakhir di Bandara Changi. Makanya, perjalanan dari dan menuju Changi selalu harus transit di Tanah Merah. Tenang, transit-nya nggak perlu jalan kaki apalagi naik turun tangga. Cukup berganti kereta ke peron di sebelahnya. Jangan salah peron dengan naik yang ke arah Pasir Ris.

Karena MRT, maka fasilitas dan interior keretanya sama aja dengan kereta MRT lainnya: bangku panjang berhadapan yang dipisahkan oleh lorong untuk penumpang berdiri. Tapi, stasiun MRT di Terminal 3 Bandara Changi megah dengan langit-langit tinggi dan pintu peron otomatis. Tiket bisa dibeli di mesin, loket, atau dengan Singapore Tourist Pass (STP) / EZ Link Card yang bisa dibeli di bandara.

Baca lebih lanjut di: Memahami Transportasi Publik Singapura


Kereta Bandara di Kuala Lumpur, KLIA Ekspres

Berbeda dengan Changi, Kuala Lumpur International Airport punya kereta bandara yang mewah bernama KLIA Ekspres―ditulisnya memang gitu ya, sesuai pengejaan bahasa Melayu. Harganya sesuai kualitasnya dong, MYR 55 saja atau sekitar Rp200.000 untuk rute KLIA – KL Sentral yang hanya ditempuh dalam 20 menit!

Interiornya elegan dengan kursi penumpang yang disusun berbaris 2-2, onboard wifi, dan colokan listrik. Tiket biasanya dibeli di loket petugas, gue belum pernah coba beli dari mesin. Kalau ada kartu Tap ‘N Go (TnG) atau Rapid Pass juga bisa dipakai.

Ada 2 layanan yang disediakan: KLIA Ekspres dan KLIA Transit. Bedanya, KLIA Transit berhenti juga di Stasiun Salak Tinggi, Cyberjaya/Putrajaya, dan Bandar Tasik Selatan (terhubung dengan Terminal Bersepadu Selatan). Selain itu, KLIA Ekpsres juga menjadi moda transportasi penghubung KLIA1 – KLIA2.

KLIA Ekspres di Stasiun KLIA2, diambil tahun 2014

Fun Fact:

Ongkos total KLIA – Cyberjaya/Bandar Tasik Selatan/Salak Tinggi – KL Sentral dengan KLIA Transit ternyata lebih murah daripada ongkos KLIA Ekspres langsung ke KL Sentral! Bisa dicoba buat kamu yang mau naik kereta ini tapi mau sedikit berhemat. Ingat, kamu harus keluar peron dulu dan beli tiket lagi di stasiun transit, ya.

Baca lebih lanjut di: Memahami Transportasi Publik Kuala Lumpur


Kereta Bandara di Hong Kong, Airport Express

Hong Kong International Airport (HKIA) ini juga punya kereta bandara yang mirip-mirip dengan KLIA Ekspres, tapi gue lupa apakah ada wifi juga. Harganya juga sama-sama Rp 200ribuan. Bedanya, Hong Kong Airport Express berhenti di Stasiun Tsing Yi, Kowloon, baru Hong Kong.

Fun Fact:

Kalau mau sedikit ngirit, beli tiket Airport Express sampai Tsing Yi, terus lanjut ke Kowloon/Hong Kong/stasiun lanjutnya dengan MTR hehe.

Di dalam Hong Kong Airport Express MTR train
Peron kereta di Bandara Hong Kong

Tiket bisa dibeli di loket, bisa juga dengan kartu MTR Travel Pass atau Octopus Card. Gue lupa apakah ada mesin tiket. Waktu itu gue naik dengan MTR Travel Pass yang gue beli online di KKDay. Yang gue suka dari kereta bandara Hong Kong ini adalah perjalanannya. Karena Hong Kong adalah sebuah kepulauan, akan ada momen-momen kereta menyeberang di atas laut atau melintas di sisi laut.

Baca lebih lanjut dengan klik di sini atau di sini.


Kereta Bandara di Jakarta, Airport Rail Service (ARS)

Gue sedih karena kereta bandara Jakarta ini kemungkinan jadi kereta bandara yang paling sepi penumpang di Asia Tenggara, bahkan lebih sepi dari KLIA Ekspres. Nggak cuma warga lokal yang juga belum antusias, tapi turis asing pun. Kemungkinan karena petunjuknya kurang jelas, atau masih minimnya informasi dalam bahasa Inggris. Gue udah berusaha nulis artikel dwibahasa di sini.

Harganya Rp70.000,00. Bisa dibeli langsung di mesin tiket (hanya menerima kartu debit/kredit dalam negeri), beli online di OTA seperti Traveloka, atau beli online di website/aplikasi Airport Rail Service. Selain dapet sedikit potongan harga, tiket yang dibeli di Traveloka juga berlaku untuk satu hari, bebas pilih jam keberangkatan. Eh, ini review jujur, bukan paid promote.

Kereta Bandara Soekarno-Hatta di Stasiun BNI City (Sudirman Baru)
Di dalam Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Walaupun desain eksteriornya kurang… sophisticated, tapi interiornya lumayan. Ada USB Port di setiap kursi yang ditata berbaris 2-2. Kekurangan lain dari kereta ini adalah waktu tempuh yang kurang cepat, 50 menit. Kereta berhenti di Stasiun Batu Ceper, Duri, BNI City, dan Manggarai.


Kereta Bandara di Medan, Airport Rail Service (ARS)

Sebelum Jakarta, ARS atau Railink sudah lebih dulu memulai layanannya di Sumatera Utara, menghubungkan Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang dengan Stasiun Medan. Harganya memang mahal, Rp100.000,00 (kalau belum naik di hari Senin), tapi gue lebih suka desain eksterior dan interior ARS Medan ini daripada ARS Jakarta!

Gue baru sekali naik kereta ini, itu pun tahun 2016 hehe. Jadi monmaap gue nggak banyak inget tentang pengalaman dengan Railink Medan.

Kereta Bandara (Airport Railink Service) Kualanamu, Sumatera Utara
Peron kereta Railink di Bandara Kualanamu

Sayangnya, transportasi umum di kota Medan belum berkembang baik. Jaringan bus kota yang BRT-like pun belum ada, jadi langkah kita kayak terhenti di Stasiun Medan dan harus beralih ke taksi/ojek/bentor/angkot/kendaraan pribadi. Palembang dan Jogja sudah lebih baik.


Kereta Bandara di Palembang, LRT Sumatera Selatan

Hampir sama dengan Singapura, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang pun dilayani oleh rapid transit system, tepatnya LRT. Walaupun, yah tentu saja… servisnya belum bisa dibandingkan hehe.

LRT Palembang di Stasiun Bandara SMB II

Jalur LRT di Palembang menjulur dari Bandara SMB II hingga DJKA, melalui Stasiun Ampera dan Jakabaring. Ongkos LRT dari/ke bandara adalah Rp10.000,00. Murah meriah memang! Tiket bisa dibeli di loket atau menggunakan kartu, nggak ada mesin tiket. Dari gedung Bandara SMB II, stasiun LRT terhubung dengan jembatan pejalan kaki yang bisa diakses dengan eskalator dan lift.

Kereta berangkat setiap 20 menit sekali. Waktu segitu harusnya nggak akan terlalu terasa, andai stasiunnya sejuk ber-AC. 😂😂😂

Baca lebih lanjut di: Review dan Panduan LRT Palembang


Prambanan Ekspres dan Kereta Bandara Yogyakarta

Stasiun bandara dan kereta bandara (practically) pertama Indonesia ada di Jogja. Stasiun Maguwo berdiri persis di depan bangunan Bandara Internasional Adisucipto, bahkan mungkin bisa dikatakan terhubung. Stasiun ini dilayani oleh semacam kereta komuter bernama Prambanan Ekspres yang menghubungkan bandara ke pusat kota Yogyakarta, Solo, bahkan Kutoarjo.

Kereta Prambanan Ekspres (Prameks) di Stasiun Yogyakarta

Harganya murah bangeeettt, Rp8.000,00. Tapi ya keretanya “begitu”, hehe. Susunan kursinya seperti MRT/LRT/KRL, versi lebih “hangat”. Sebenernya fine-fine aja kalau pas cuacanya enak, tapi kalau pas panas terik, beuh… cobaan berat. Untung dari Maguwo ke Yogyakarta nggak terlalu lama.

Terus gimana dengan bandara baru Yogyakarta International Airport (YIA)? Syukurlah keretanya udah jauh lebih nyaman dengan harga Rp15.000,00. Untuk sementara, kereta belum menghubungkan langsung YIA dengan Stasiun Yogyakarta, masih harus transit di Stasiun Wojo yang terhubung ke YIA dengan minivan DAMRI. Semoga jalur kereta dari Stasiun Wojo ke YIA segera jadi, ya.

Interior Kereta Bandara Yogyakarta / Kereta Bandara Solo Ekspres
Kereta Bandara YIA di Stasiun Jogja

Baca lebih lanjut di: Pengalaman Naik Kereta Bandara Baru Yogyakarta


Kereta Bandara Lainnya

Bangkok, Phnom Penh, Solo, dan Padang juga punya kereta bandara. Sayangnya, 4 kali ke Bangkok gue belum pernah cobain Airport Rail Link-nya Bandara Suvarnabhumi karena gue selalu mendarat/terbang di/dari Bandara Don Mueang.  Kereta bandaranya Phnom Penh, Kamboja, juga belum coba, tapi lihat foto-fotonya sih keretanya pendek dengan model lawas.

Kereta bandara di Solo dan Padang (Minangkabau International Airport) memakai armada yang sama dengan Kereta Bandara YIA. Mungkin INKA memang membuat satu trainset secara massal untuk beberapa kereta bandara sekaligus, hehe. Jadi walaupun gue belum bisa kasih review-nya di sini, semoga fasilitas keretanya udah terbayang. Untuk Solo, lebih tepatnya gue belum coba rute langsung dari/ke Bandara Adi Sumarmo, baru sampai Stasiun Solo Balapan karena waktu itu jalur dan stasiun bandaranya belum jadi. Baca lebih lanjut di sini.

Di Manila, stasiun terdekat dari Ninoy Aquino International Airport (NAIA) adalah Stasiun Baclaran yang dilalui oleh jalur LRT-1. Sementara itu, Bali berencana membangun LRT bawah tanah dari Bandara Internasional Ngurah Rai hingga Kuta. Can’t wait!


November 2019, gue udah siap cobain Haikou Suburban Railway yang menghubungkan Bandara Internasional Meilan dengan pusat kota Haikou, Hainan. Sayangnya mesin tiket hanya tersedia dalam aksara Hanzi Tionghoa dan gue gagal terus. Sekarang gue baru kepikiran, kenapa gue nggak coba masuk dulu ke dalam stasiun? Siapa tau ada loket petugas di dalem.

Rencananya, tulisan ini akan terus gue perbaharui dengan kereta-kereta bandara yang gue coba kemudian. Minimal banget daftar kereta bandara di kota-kota besar Asia Tenggara dan Asia Timur bisa gue lengkapi di sini.

Salam dari saya, sang pecinta kereta (bandara)

Gimana menurut kamu, kereta bandara mana aja yang pernah kamu coba dan mana aja yang kamu suka? Nggak cuma di Asia, gue buka temen-temen berbagi seluas-luasnya di kolom komentar. Asyik ‘kan naik kereta bandara itu? Kita bisa belajar dan melihat banyak hal di dalam perjalanan, learning by traveling

29 komentar

  1. Hmm di antara daftar itu semua, aku baru pernah coba yang Singapore 😀

    Kenapa yang bandara Soetta belum pernah dicoba? Sebenarnya udah beberapa kali mau coba tapi cancel terus karena kayak ribet aja gitu, bawa-bawa koper harus naik turun kereta dan kalau lagi jalan bareng-bareng kok ya lebih murah naik taksi online ya daripada naik kereta bandara 😀

    1. Iya betul kak, kereta bandara Jakarta kalah sama taksi online. Ah, kamu mah mainannya jauuuhhhh.

      1. Haha gak jauh-jauh amatlah. Oh ya ngomongin kereta, waktu kemarin ke Uzbek, aku sempet nyobaik kereta antar kotanya. Sebagai orang yang suka banget kereta, kapan-kapan coba Kak naik kereta cepatnya Uzbek – akan ada sensasi ‘masa lalu’ tersendiri hehehe…

      2. Doakan ya, kak. Kalo ke Uzbek ntar aku eksplor subway dan kereta cepatnya hehe

      3. Yess! 😀

  2. gue termasuk warga yang kurang antusias dengan kereta bandara di Jakarta. Tiap ke Jakarta, gue lebih sering naik damri (kalau perjalanan ke rumah sodara) atau naik taksi kalau urusan kantor.. monmaap jadinya sepi dah tu keretanya 😀 ..

    yang di Padang pun gue gak pernah pake kereta bandaranya, padahal murah bgt juga itu tiketnya wkwk.. gue lebih memilih diantar jemput bini, atau titip mobil di bandara kalau pergi semua 😀 ..

    -traveler paruh waktu

    1. Wkwkwk ini dia salah satu biangnya x))

  3. Fanny Fristhika Nila · · Balas

    Mas, aku penasaran tunggu review mu utk kereta bandara di Jepang :).

    Kita sama utk hal suka eksplor bandara kalo baru pertama landing di situ :D. Dari sekian banyak yaaa, fav ku pastilah Haneda jepang :D. Makanya ga prnh bosen balik ke Jepang ini. Narita aku juga pernah landing, tp ttp Haneda jauuuuh lebih menarik. Kalo kereta nya mah sama. January 2021 aku berharap Jepang udh bisa didatangin lagi, Krn planku bakal ksana di awal tahun.

    Cuma aku blm pernah sih nulis secara detil ttg bandara dan keretanya, Krn memang ga prnh nyempetin utk tulis detil2nya, apalagi foto. Jd bnr2 cuma dinikmati sendiri. Lagian aku ga terlalu rajin nulisin detil kayak kamu gini :D.

    Kalo kereta api bandara di JKT, aku memang blm prnh naik. Bukannya ga pengen, tp masalahnya jauuuuh. Hrs ke Manggarai dulu. Belum taxinya kesana. Blm gotong koper. Semnetara rumahku kluar dikit udah toll bandara :D. Makanya itu jd alasan sampe skr ga prnh pake KA bandara. Kec kalo stasiunnya ada dibangun Deket rumah, baru deh, aku bakal pake 😀

    1. Iyaaaa aku juga udah pengen banget ke Jepang, mbak. Nanti kalo udah ke sana pasti kutulis review kereta-keretanya hehe.

      Bisa dimaklumi, mbak. Kalau memang deket tol bandara ya memang enaknya naik taksol / kendaraan pribadi 😁

  4. Wah pengalaman mas Nugie banyaaaaak juga 😆

    Saya membaca tulisan ini sambil mengingat-ingat mana yang sudah pernah saya coba ~ dan ternyata nggak banyak 😂 soalnya untuk beberapa negara, kadang sewa mobil, atau naik kereta biasa bukan kereta bandara (seingat saya). Tapi dari semua list yang mas Nugie jabarkan, saya paling suka kereta bandara HK. Pokoknya naik kereta di HK itu menyenangkan 😍

    Nah, kalau yang di Phnom Penh juga pernah dan iya keretanya lawas bangettt plus jalannya lambat (tapi bagi yang suka melihat pemandangan, mungkin akan senang) 😁 terus kalau mau naik kereta bandara Phnom Penh harus menunggu setiap 30 menit sampai kereta berikutnya datang. Saya merasa, kereta bandara Phnom Penh ini lebih sepi daripada kereta bandara CGK meski saya belum pernah coba yang CGK, tapi yang Phnom Penh ini terlalu sepinya cuma ada 3 orang saja waktu itu, mas 😂

    Sekian pengalaman saya 😄✌

    1. Kereta bandara HK memang enak, mbak. Puji Tuhan waktu itu ada yg sponsorin jadi bisa naik haha. Kalau MTR-nya penuh terus 😁

      Iya, liat-liat videonya juga jalannya lambat banget. Ternyata lebih sepi ya. Mungkin karena better naik bus atau yg lain, secara bandaranya gak jauh-jauh amat dari kota.

      Itu masih dikiiiiittt pengen nambah kereta bandara di negara lainnya.

  5. Aku malah pengen ngerasain kereta bandara Kuala Namu, mas. Pengen rasanya merasakan kereta api di sana ahahhahaha. Sama di Palembang, semoga ada waktu untuk plesiran ke sana.

    1. Amin amin. Gaskeun setelah corona!

  6. Dulu pernah pengin naik kereta dari Bandara Medan ke tengah kota, tapi karena pas dihitung-hitung jadi mahal (kami bertiga waktu itu), nggak jadi deh. Akhirnya naik taxi online. Hehe. Kalo solo traveling, mungkin bisa cobain naik kereta itu. Penasaran juga, pengin coba hal baru. 😀

    1. Kalo jalan rame-rame memang murah naik taksol kak, kecuali kalian sama-sama railfans :))

  7. Kereta bandara di Jakarta kalau Kamis – Minggu udah mulai ramai kok sebelum covid-19. Gue terakhir naik bulan November pas hari Kamis, agak susah dapat kursi karena penuh. Jadi jalan dulu ke gerbong sebelahnya.

    1. SERIUS? Waaa seneng bacanya. Semoga makin banyak warga yang beralih ke kereta bandara ya.

  8. dansontheroad · · Balas

    Menarik juga ya Singapura gak ada kereta ekspres dari bandara ke ibu kota tetapi harga MRT ke kota seperti Raffles Place sangat murah berbanding KLIA Ekspres.

    1. Tapi di KLIA Ekspres cepat juga, bang. Dan selesa, tak berdesakan 😀

  9. Baru tahu Phnom Penh sekarang udah punya kereta bandara. Milestone banget kayaknya buat mereka.

    1. Phnom Penh emang lagi berkembang mas, dan Kamboja secara umum. Mereka udah mengaktifkan kembali sebagian jalur kereta api mereka.

  10. Karena dirimu adalah true train-enthusiast, aku doain deh supaya kamu bisa cepet ke Jepang sehabis masa pandemi ini. Itu bisa nyobain dari yang level shinkansen, rapid, yang biasa, yang bertingkat, sampai yang kayak odong-odong supaya bisa moto pemandangan pinggir lembah dan masih banyak lagi… (eh tapi bukan khusus kereta bandara ya) ada semuanya deh…

    So far, memang kereta bandara HK ok banget ya. Kalo di Jepang, dari Narita aku pernah naik yang keren karena udah included dalam Pass yang aku pake. Pulangnya pernah naik kereta biasa yang kayak commuter, seru juga (hanya lama aja karena Narita jauh).

    Dulu di KL, kalo mau ke kota aku naik kereta bandara itu, cepet sih gak kena macet. Cuma gak tau sekarang.. dah lama gak ke kotanya, cuma numpang lewat bandara 😀

    1. Amin amin, mbak. Udah banyak yg doain bisa ke Jepang tahun ini, pasti terwujud! 😀

      Itu Narita Express ya? Misiku di Jepang memang cobain sebanyaj mungkin kereta 😂😂😂
      Dari subway, komuter, shinkansen, kereta bandara, monorel, tram, sama kereta yg cuma 1 gerbong ke desa-desa gitu.

  11. Di Indonesia sendiri dulu hampir selalu pake Railink pas masih tinggal di Medan. Iya, memang mahal 100 ribu dan kadang ada promo jadi 70/75(?), tapi tetep lebih murah ketimbang harus naik Taksi bisa 200 ribuan sebelum ada Grab/Gojek. Baru ada Grab/Gocar sekitar 150-170an. Udah ngerasa wah kali, Indonesia punya kereta bandara sekelas Railink, sementara waktu itu Soetta aja belum punya.
    Di Soetta sendiri baru sekali nyobain, dan karena sama sama Railink, hampir semua fasilitas dan dekornya kerasa sama kek di Medan.

    Kalo di Asia nyobain di Kuala Lumpur, Singapore, Osaka, dan New Delhi. Dari empat kota itu fasilitasnya udah bagus, keretanya juga udah modern. Untuk harganya Singapore sama New Delhi yang murah. Kuala Lumpur termasuk mahal. Kalo Osaka aku lupaa berapa biayanya. 🤣

    Yang lebih jauh, nyobain di Oslo. Mahal banget, hampir 400 ribu. Tapi ini express sih, dan interiornya juga lebih wah. Sebenernya kami salah beli, harusnya ada yang biasa aja seharga 150 ribuan (tetep mahal sebenernya, wkwkwkwk).

    Moga moga punya kesempatan nyobain kereta banda di kota kota yang lainnya. Palembang aja belum, pas ke Palembang lagi dibangun. 😁

    1. Menarik juga nih kalo mas Akbar bikin tulisan soal kereta-kereta juga. Aku pengen juga cobain kereta di India sama Jepang.

      1. Masalahnya satu Mas: nggak banyak stok fotonya. Hahahahaha.

  12. Sejauh ini baru coba dua kereta bandara, yaitu di Jakarta dan di Medan.

    Jadi pengen nyobain kereta bandara dan kereta-kereta api lainnya. Kayaknya seru juga berpetualang dengan kereta api.

    1. Buatku seru dan menarik, bro. Tiap kereta beda soalnya 🙂

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Khairunnisa Siregar's

Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow

Jilbab Backpacker

Travel - Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Catatan Perjalanan, Ulasan Tempat, dan Daily Blog

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap Perjalanan Punya Cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. Kuy, der!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jalan-Jalan Terus!

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Travel Vlogger Indonesia

Travel Vlogger Indonesia, menginspirasi lewat travel vlog Indonesia, berbagi informasi liburan dan vlog jalan jalan!

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: