Pengalaman Naik Kereta Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) + Jadwal dan Harga Terbaru 2020

Ada yang baru di Yogyakarta! Well, sebenernya nggak baru-baru amat sih, gue aja yang telat. Menyusul Medan, Jakarta, Palembang, dan Padang, sekarang Jogja juga sudah punya kereta bandara (meski secara praktis, Prambanan Ekspres yang melayani Stasiun Maguwo di depan Bandara Adi Sucipto adalah kereta bandara pertama). Kereta bandara Yogyakarta International Airport (YIA) mulai beroperasi pada bulan Mei 2019 menyusul dibukanya bandara baru di Kulonprogo itu. Makanya, saat mudik Natal bulan Desember 2019 lalu, gue menyempatkan diri buat cobain transportasi baru ini. Maklum, rail enthusiast.

Sejak sebelum berangkat ke Jogja, gue udah membayangkan wacana menjajal kereta baru ini. Lalu saat gue meet-up sama mas @iansetyadi di SILAMO Hub―sebuah kedai kopi baru di kawasan selatan Yogyakarta―gue langsung nembak mas Ian buat ikut mengeksekusi rencana ini.

“Mas, udah pernah ke bandara baru? Mampir ke sana, yuk. Cobain kereta, terus balik lagi.”

Mas Ian ternyata menyambut baik rencana itu. Saat itu malam Natal, 24 Desember 2019―wah, Nugi malam Natal bukannya ibadah malah ngopi-ngopi. Kami sepakat untuk mengeksekusi rencana itu di hari Jumat, 27 Desember 2019. Lalu gimana pengalaman kami naik kereta bandara YIA? Baca terus ulasan ini sampai selesai.

Simak ulasan lainnya: Pengalaman Naik Airport Railink dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pusat Kota Jakarta


Rute, Jadwal, dan Harga Tiket (Tarif) Kereta Bandara YIA

Sampai tulisan ini diturunkan (udah kayak surat kabar besar aja bahasanya), kereta bandara YIA belum melayani rute langsung ke Yogyakarta International Airport. Penumpang harus transit di Stasiun Wojo, lalu di sana melanjutkan perjalanan dengan DAMRI Airport Shuttle, dan begitu pun sebaliknya. Maka rute yang kami ambil adalah Stasiun Yogyakarta – Stasiun Wojo – Yogyakarta International Airport dengan jadwal keberangkatan pukul 10:10.

Kereta bandara YIA siap berangkat dari Stasiun Yogyakarta (Tugu)

DAMRI Airport Shuttle untuk Yogyakarta International Airport

Saat ini, ada 16 keberangkatan dari Stasiun Yogyakarta dan sebaliknya, dari Stasiun Wojo. Total 16 jadwal itu merupakan gabungan dari layanan Kereta Bandara YIA sendiri dan kereta existing Prambanan Ekspres. Betul, kereta Prambanan Ekspres juga melewati Stasiun Wojo, jadi ada 2 pilihan kereta. Rute lengkapnya adalah Yogyakarta – Maguwo – Wates – Wojo. Ongkosnya tentu beda, yaitu Rp8.000,00 untuk kereta Prameks dan Rp15.000,00 untuk kereta bandara YIA.

Jadwal selengkapnya bisa disimak di tabel ini. Tabel ini gue buat sendiri dengan merangkum informasi dari KAI Access karena gue cek belum ada tabel/infografis jadwal kereta bandara YIA terbaru.

Untuk saat ini, pembelian dan reservasi tiket kereta bandara YIA hanya bisa dilakukan di aplikasi KAI Access atau beli langsung di loket. Untungnya mas Ian memang pengguna KAI Access. Ternyata untuk masuk ke dalam peron, petugas harus memindai barcode tiket dari aplikasi, nggak bisa dari screenshot seperti yang coba gue lakukan.

Nah, this is so impractical. Gue paham, pihak Kereta Api Indonesia ingin aplikasinya diunduh sebanyak mungkin orang, namun sebaiknya KAI juga memikirkan one time customer, seperti wisatawan, apalagi ini adalah transportasi bandara. Sementara kalo beli langsung di loket, antriannya bikin males dan seringkali udah kehabisan dari mereka (warga lokal) yang beli dari pagi-pagi, dari jauh-jauh hari, dan dari KAI Access. Semoga ke depannya akan ada ticketing machine di Stasiun Yogyakarta khusus untuk kereta komuter dan kereta bandara.

Naik kereta bandara Yogyakarta International Airport (YIA)

Disclaimer:

Perbedaan warna kereta di blog ini disebabkan karena efek preset Lightroom yang gue terapkan. Agar bisa membandingkan dengan warna aslinya (hijau cerah, bukan hijau kusam), beberapa foto original gue sisipkan di dalam tulisan.

Baca juga: Perjalanan Naik Kereta Airport Express dari Bandara Hong Kong ke Pusat Kota


Perjalanan dari Stasiun Yogyakarta ke Stasiun Wojo

Ternyata, kereta bandaranya sendiri juga ada 2 macam. Gue menyebutnya dengan istilah “kereta mewah” dan “kereta merakyat”, hehe. Puji Tuhan, dua-duanya berhasil kami cobain di hari itu juga.

Interior kereta “rakyat” yang kami naiki dari Stasiun Yogyakarta ke Stasiun Wojo

Pemandangan selama perjalanan Yogyakarta-Wojo yang indah

Kereta yang kami naiki untuk keberangkatan Yogyakarta – Wojo adalah kereta merakyat. Bagian depannya mengingatkan gue dengan armada KRL Commuter Line Tanjung Priuk yang berwarna oranye itu, bedanya kereta yang satu ini diguyur dengan warna hijau. Apa jangan-jangan memang bekas KRL Commuter Line itu ya? Kalo ada sobat railfans yang tau info pastinya, share di kolom komentar dong.

Di dalamnya, kursi penumpang ditata dalam formasi 2-2, di mana baris genap dan ganjillnya saling berhadapan. Di antara kedua lajur kursi, disediakan lorong untuk penumpang berdiri yang dilengkapi dengan hand-rail. Sayangnya, kereta ini kurang nyaman. Kursinya kurang lebar, dan jarak antar kursinya juga sempit. Selain itu juga nggak ada colokan listrik dan tempat menaruh koper yang biasanya ada di kereta bandara.

Pemandangan selama perjalanan Yogyakarta-Wojo yang indah

Pemandangan selama perjalanan Yogyakarta-Wojo yang indah

Asyiknya, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hijau dari lahan persawahan, jajaran pohon kelapa, burung-burung bangau, dan punggung pegunungan. Rumah-rumah warga desa berdiri bersahaja menghadap jalur kereta. Untuk pemandangan yang lebih baik, pilih sisi kanan dari arah kedatangan kereta untuk perjalanan Yogyakarta – Wojo ini.

Baca Juga: Perjalanan Naik Kereta KLIA Ekspres dari Bandara ke Kuala Lumpur Sentral


Perjalanan dari Stasiun Wojo ke Yogyakarta International Airport

Somehow, Stasiun Wojo ini mengingatkan gue dengan Stasiun MTR Disneyland yang ada di Hong Kong. Kecil, di tengah hutan antah berantah, tiang-tiang bajanya sama-sama diwarnai dengan nuansa hijau.

Kereta Bandara YIA di Stasiun Wojo

Mobil DAMRI yang sudah menunggu di depan Stasiun Wojo

Setelah selesai berfoto-foto, kami berjalan keluar mengikuti papan petunjuk. Stasiun Wojo sudah dilengkapi dengan ruang tunggu yang modern dan cukup luas untuk ukuran stasiunnya. Ada layar TV yang menampilkan informasi jadwal pesawat dari Yogyakarta International Airport. Di depan stasiun, sudah ada 2 mobil DAMRI airport shuttle yang menunggu dan siap diberangkatkan. Gue nggak melihat ada tempat makan atau minimarket di dalam stasiun, tapi beberapa warung dan rumah makan bisa ditemukan begitu kita sudah di jalan raya.

Tiket DAMRI dari Stasiun Wojo ke YIA dibeli langsung dari driver yang bertugas, tarifnya Rp20.000,00. Tergolong mahal untuk sebuah perjalanan singkat selama 10 menit. Armada airport shuttle YIA menggunakan kendaraan bertipe minibus, seperti yang banyak dipakai operator travel Bandung – Jakarta.

Sugeng rawuh di Stasiun Wojo Purworejo

Area tunggu Stasiun Wojo untuk kereta bandara YIA

Jalan raya Wates-Purworejo yang rindang

Gue beruntung bisa duduk di kursi terdepan di samping driver. Mobil lalu berkendara melalui Jalan Wates-Puworejo yang diapit pepohonan rindang, sebelum akhirnya berbelok ke kanan memasuki area Yogyakarta International Airport yang gersang, meski pegunungan terbentang jauh di belakang. Mobil berhenti menurunkan penumpang tepat di depan terminal, di drop off point yang disediakan.


Duduk Sampai Bosen di Yogyakarta International Airport

Nah, ini adalah satu bagian yang salah gue prediksi. Gue kira, meski kami bukan calon penumpang pesawat, tetap ada banyak area yang bisa kami eksplor seperti di Terminal 2 – 3 Bandara Soekarno-Hatta atau di Bandara Husein Sastranegara Bandung. Mungkin karena belum beroperasi penuh, area komersil di depan terminal nggak sebesar dan seramai yang gue bayangkan, juga terbuka seluruhnya jadi nggak ber-AC.

Selasar depan terminal keberangkatan Yogyakarta International Airport

Tourist Information Center, Yogyakarta International Airport

Mesin check-in mandiri dan minimarket di Yogyakarta International Airport

Nyaris nggak ada fitur signifikan di selasar depan YIA itu, selain sebuah tourist information center, minimarket Pop-Mart, dan sebuah coffee shop bernama EKOLOGI. Selain EKOLOGI, pilihan tempat makan lain yang bisa kami akses adalah sebuah restoran di seberang terminal. Sayangnya, restoran itu nggak ber-AC. Kalo di dalam ruang tunggunya sih katanya ada banyak tempat makan. Gue mau foto-foto aula check-in, tapi nggak dibolehin sama petugas. Padahal udah gue bilang dari pojok atau dari ambang pintu aja gapapa, diawasi terus sama dia juga gapapa.

Kami pun masuk ke dalam EKOLOGI, pilihan terbaik kami saat itu. Sayangnya, di dalam pun seluruh kue sudah habis, dan seluruh seating area di non-smoking room sudah terisi. Gue lalu memberanikan diri bertanya pada seorang ibu-ibu yang sedang duduk sendirian di seating area berkapasitas 4 orang.

Cafe EKOLOGI di Yogyakarta International Airport

Papan menu cafe Ekologi di Yogyakarta International Airport

“Bu, sendirian? Boleh kami gabung?”

Puji Tuhan beliau mempersilakan. Tak disangka, kami bertiga malah larut dalam obrolan karena suami ibu itu (yang sedang meeting) ternyata bekerja untuk salah satu vendor bandara. Kami asyik membicarakan pembangunan infrastruktur transportasi Indonesia―termasuk MRT, Simpang Susun Semanggi, dan Yogyakarta International Airport yang kabarnya dikebut agar bisa selesai pada pertengahan 2020. Ternyata lagi, ibu itu satu almamater sama gue, Universitas Padjadjaran kampus Jatinangor. Sayang, kami nggak bertukar nama apalagi informasi kontak.

Sudut bacaan di EKOLOGI YIA dan kopi yang kami pesan

Area duduk di meja bar, EKOLOGI Yogyakarta International Airport

Non-smoking area EKOLOGI Yogyakarta Airport, cowok berkaus kuning itu mas Ian

Gue memesan cappuccino, sementara mas Ian memilih Americano, tadinya mau manual brew tapi nggak ada. Selain 2 area tempat duduk untuk 4 orang, ada kursi-kursi bar yang menghadap ke konter. Di sudut ruangan, ada beberapa buku dan novel untuk bahan bacaan.


Nyaris Nggak Bisa Balik ke Stasiun Wojo

Sekitar jam 2 siang, gue mengajak mas Ian untuk menghampiri pick-up point Damri, siapa tau jadwalnya masih lama. Sebetulnya gue udah mulai gelisah sejak beberapa menit lalu, saat ada penerbangan yang baru mendarat. Ternyata bener keresahan gue, nggak ada apa-apa di pick-up point Damri. Gue tanya kapan jadwal selanjutnya kepada petugas yang ada. Jawabnya, kemungkinan jam 4 sore setelah ada penerbangan mendarat lagi.

Gue dan mas Ian lalu sama-sama mencoba memesan taksi online menuju Stasiun Wojo. Fyi, tarif taksol dari YIA ke Stasiun Wojo ternyata juga sama dengan harga Damri. Mas Ian nggak dapet-dapet. Gue sempet dapet sekali, tapi karena sekian lama driver-nya nggak gerak-gerak, akhirnya gue cancel.

Mengintip aula check-in Yogyakarta International Airport

Pick-up point DAMRI Airport Shuttle di YIA

Kami kembali ke pick-up point Damri. Setelah gue sampaikan maksud kami, puji Tuhan kami bisa diantar oleh mobil Damri yang tiba beberapa menit kemudian. Jadi, seharusnya memang belum ada jadwal ke Stasiun Wojo. Namun mungkin karena iba, bapak yang semacam koordinator itu lalu mengomando driver yang baru tiba untuk mengantarkan kami kembali ke Stasiun Wojo. Terima kasih, bapaaakkk.


Perjalanan Dari Stasiun Wojo ke Stasiun Yogyakarta

Kami tiba di Stasiun Wojo saat kereta bandara sudah siaga di peron. Wah, kali ini kami mendapat kereta yang mewah, persis seperti kereta Solo Ekspres yang gue naiki saat mudik lebaran. Klik link-nya buat baca review-nya ya.

Interior kereta bandara Yogyakarta International Airport YIA dengan armada mewah

Kereta bandara YIA tiba di Stasiun Yogyakarta

Berbeda dengan kereta sebelumnya, kereta yang ini baguuusss. Layout kursinya serupa, namun kursinya empuk, lebar, dengan ruang kaki yang lebih lega. Ada colokan listrik, AC, dan area menyimpan koper. Ini baru kereta bandara! Aneh, dengan harga yang sama-sama Rp15.000, kami mendapat 2 macam kereta yang berbeda kualitas.


Kapan Kereta Bandara YIA Beroperasi Normal?

Yogyakarta International Airport diperkirakan akan beroperasi penuh pada Maret 2020, namun jalur kereta yang terhubung langsung dengan YIA diperkirakan baru rampung pada Desember 2020. Gue nggak tau kenapa selama itu if it’s just a short railway track. Mungkin karena jalur baru ini bukan extension dari Stasiun Wojo. Kalo menurut gue sih, bisa juga dibangun LRT atau Automated People Mover (APM) seperti skytrain di Bandara Soekarno-Hatta untuk menghubungkan Stasiun Wojo dengan YIA. Jaraknya hanya sekitar 5 kilometer.

Tampak depan Stasiun Wojo Purworejo

Stasiun Wojo di tengah hutan antah berantah

Akhirnya, gue berharap Yogyakarta International Airport dapat beroperasi penuh sesuai target yang ditetapkan tanpa meninggalkan quality requirement. Semoga jalur pembelian tiket kereta bandara YIA juga bertambah untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Btw, bandara baru ini terletak dekat dengan beberapa obyek wisata, seperti: Pantai Congot, Pantai Glagah Indah, kebun bunga matahari, dan hutan mangrove. Jadi semoga Yogyakarta International Airport bisa membawa kebaikan untuk semua pihak.

44 komentar

  1. Mantaaaap. Meski jarang melakukan naik pesawat via YIA, ini wajib banget tahu. Disimpan dulu kali saja kapan-kapan ada agenda.

    Keretanya kece desainnya, yaa. Terjangkau harganya. Sempat kaget tadi kirain dengan harga 8-15K an bisa langsung nyampe bandaranya…
    jadi harus naik shuttle lagi ternyata…

    Berarti paling tidak kalo ditambah shuttle +20K jadi siapkan 35K an ya mas ke bandara… masih lumayan si..

    Semoga tersosialiasi dg baik dan ramai penggunanya,,

    1. Bener, total sekali jalan adalah Rp35.000,00. Makasih ya sudah mampir.

  2. kemaren baca kalo semua penerbangan komersil udah dipindah ke YIA, harapannya si emang bisa segera rampung itu track, soalnya jauh banget dari Pusat Kota Jogja, sampai sekarang kalo pengen ke Jogja ya ke Adisucipto. semoga beneran cepet rampung.

    btw, tulisannya membantu sangat buat saya yang lagi nyari2 info transport dari YIA ke Jogja.

    1. Setauku belum semua, tapi baru mau semua buat Maret 2020 nanti. Yang di JOG cuma buat pesawat propeler aja.

      Sama-sama bro, senang bisa membantu.

  3. Artikelmu ini memberiku ide buat jalan-jalan ke rumah kawan di Glagah pake kereta bandara Gi. Sekalian lihat bandara baru hahaha (ndeso yo ben), soalnya belum ada rencana jalan jauh naik pesawat dalam waktu dekat ini. Nanti dari Stasiun Wojo tinggal minta jemput. Menarique. Bocah mesti seneng.

    1. Nah, menarik tuh mbak. Ternyata kereta bandara bisa buat jalan-jalan ke daerah pantai 😀

  4. Nurul Sufitri · · Balas

    Gemezzz banget ya mas kepengen foto2 aula check in ga bisa. Petugasnya ngeri kali takut ada apa2 hahaha… padahal kan bagus ya kita mau kasih info buat masayarakat. Itu cafenya cantik amat, homey gitu. Ga berasa di bandara deh..ala2 mall. Kepengen deh ke Jogja kayak Mas Nugi begini. Menikmati perjalanannya dg hati riang.

    1. Iyaaa gregetan sama petugasnya, padahal dia awasi juga gapapa, cuma dari ambang pintu juga gapapa.

  5. Gerbong keretanya mirip banget sama kereta Bandara Internasional Minangkabau di Padang. Ongkosnya juga nggak jauh beda.

    Mungkin nanti kalau semua penerbangan dipindah ke sana dari Adisutjipto, saya bakal coba kereta ini. 😀

    1. Memang sama, mas. Satu produksi dari INKA hehe. Kalo gak salah Maret 2020 semua pindah ke JOG kecuali maskapai propeler.

  6. ada kereta jadi gampang yaa ke bandara. lebih hemat waktu dan lebih cepat sampai dibanding naik bus atau kendaraan umum lainnya

    1. Betul, waktu lebih terjamin.

  7. nah ini nih, kemarin ketinggalan kereta ini hahahaha

    amsyooong

    1. Semoga next nggak ketinggalan mas 😀

  8. Aku belum pernah ke bandara yang satu ini berhubung ke Yogya itu 3 tahun lalu. Ide bagus nih coba kereta bandara nanti saat ke Yogya lagi tahun ini (semoga jadi). Harganya juga tergolong lebih murah nih dibandingkan yang di SUMUT,hehehe.

    1. Iya kak, yang ini dikelola PT KAI (bukan Railink) dan memang nggak semewah yang di Sumatera Utara. Cobain!

  9. Lho…udh rame diberitakan YIA udah jadi dan ada KA bandara, ternyata msh sepotong, dan sambung dengan travel. Tadinya udah iri, Kertajati aja blm ada KA bandara. Kualanamu gimana ya? Udah ada belum KA Bandara?
    Makasih infonya. Btw, YIA itu untuk rute LN aja kah?

    1. Kualanamu adalah bandara pertama yang punya kereta bandara, mbak. Keretanya bagus banget, tapi juga mahal hehe.

      YIA untuk semua rute, kecuali maskapai propeler atau ATR aja yang masih di Adi Sucipto.

  10. Woalah, Gi, gw kirain dari YIA udah bisa langsung naik kereta lho. Ternyata masih kudu dioper van dulu. Gw sampai getek lihat endorse2an beberapa so-called-selebgram tentang kereta bandara YIA bulan lalu. Ini nah namanya keretanya ready not ready sih.

    Baiklah, gw tunggu sampai bulan Desember 2020 aja. Duh, masih lama.

    1. Wkwkwk, tapi mau nggak mau Desember 2020 all flights udah move ke YIA, kak.

  11. Rui Akaruicha · · Balas

    Wah mantap, kereta bandara juga sudah ada di Yogya. Semoga bandara YIA di tahun ini lekas selesai. Saya penasaran, sesekali kalau bawa anak anak, maunya ke Yogya naik pesawat saja. Kalau mereka sudah agak besar baru naik kereta.

    1. Iya sudah ada mbak, meski belum terhubung langsung.

  12. Waah. Udah beroperasi ya YIA. Sepajang 2013-2017 pas masih tinggal di Medan, wira wiri ke Adi Sucipto, ngebayangin betapa jauhn dan repotnya kalau sudah pindah ke Kulonprogo.
    Dan jadi juga, walaupun masih tahap pengembangan dan pembangunan. Karena dilihat-lihat masih minim banget akses. Apalagi tempat makannya, masih sepiii.

    Jadi masih agak ribet ya, harus ke Stasiun Wojo dulu, nyambung Damri lagi. Aku kira langsung berhenti di depan bandara persis.

    Bukan Railink ya yang ngerjain? Tapi nggak papa, udah ada akses kereta api aja udah syukur, dan muraaah banget dibandingin Railink. Hehehehe. Mungkin nanti Railink nyusul boleh ya. Biar ada kereta mewah, kereta merakyat, sama kereta sultan. Wkwkwkwk.

    1. Iya mas, belum terhubung langsung ke YIA. Keretanya memang masih di-handle KAI, bukan Railink. Boleh juga sih kalo ada beberapa opsi kereta, menyesuaikan sama kasta penumpang 😀

  13. Oh, finally sudah beroperasi juga ya. Tinggal tunggu full keretanya biar nggak pakai naik Damri segala hehehehe~ ribet juga membayangkannya kalau harus pindah-pindah kendaraan 😀

    Senang rasanya semakin banyak kereta bandara di Indonesia, semoga nanti di Bali ada juga tapi mungkin kalaupun ada, pasti dibuat untuk bandara baru yang di Utara. Secara yang di Selatan sudah nggak ada lahan :d

    1. Kabar baik! Mau dibangun LRT dari Bandara Ngurah Rai ke Kuta, underground.

  14. Semoga juga akan segera hadir ketera bandara di Batam. Dulu pernah ada wacana pembangunan sky train kalau nggak monorail, tapi sudah menunggu 10 tahun kemudian bwlum juga jadi. Malah keduan oleh kota lain.

    Btw, Jogja ada Bandara baru ternyata ya. Baru ngeh saya.

    1. Iya kak, bandara lama udah crowded soalnya. Semoga Batam juga punya transportasi massal berbasis rel ya.

  15. […] Bandingkan dengan kereta bandara Yogyakarta, baca cerita dan ulasannya di: Pengalaman Naik Kereta Bandara Yogyakarta International Airport […]

  16. Wahhh seru juga nih mas. Akhirnya Jogja punya kereta bandara. Haha
    Bisa lebih santuy dan gak ribet lagi nih buat ke bandara. Jalan-jalan ke Jogja makin ahoy aja nih. hahaha

    Salam hangat dari kami Ibadah Mimpi

  17. Kereta rakyat sama kereta mewahnya sama2 keren 😀 ini wajib dicobain..shuttle Damrinya juga bagus, tapi mahal juga ongkosnya ya

    1. Iya mahal buat 10 menit doang

  18. Lah, sama harga tapi beda kualitas ya. Kalau yang kurang mewah, duduknya tegak banget ya.
    Terus kurang praktis banget klo harus ada transfer dari kereta ke DAMRI dan juga sebaliknya.

    Nah, ide LRT kayaknya juga lebih bagus deh kalau jaraknya nggak terlalu panjang seperti itu.
    Tapi kalian niat banget sih nyobain kereta bandara pas momen natal kemarin. ahahahha

    1. Iya bang, harusnya kereta yang kurang mewah itu juga lebih murah ya. Hahaha, pada kurang kerjaan kami tu 😀

  19. Sering liat kereta bandara ini tapi belum pernah coba hahaha. Soalnyaa masih naik pesawat dari Adi Sucito dan dekat dengan kostan hahaha. Next mau cobain ah hehe

    1. Iya, Adi Sucipto udah enak karena deket ke mana-mana

  20. Wah belum pernah nyobain kereta bandara nih, semoga next time bisa nyoba.

    Wajib coba lah nanti kalau sudah beroperasi sepenuhnya ya…

    1. Yes kak, apalagi kalo jalur ke bandara udah jadi

  21. Fanny Fristhika Nila · · Balas

    Harga tiketnya jomplang banget Ama tiket kereta api bandara Jakarta dan Kualanamu yaaa :0. Iri akuuuuu. Lah yg di JKT dan di Medan aja ga prnh aku coba, Krn kalo diitung2, apalagi pergi barengan Ama suami dan anak, ya lebih murah taxi .

    Penasaran sih mas naik kereta api yg di Jogja ini, apalagi melihat bandara barunya. Trakhir kali aku ke Jogja naik pesawat, dan turun plus pulang dr bandara lama, aku sempet kepikir, gilaaa ya ini bandara Jogja. Ruamee bangettt gini yg landing dan take-off, tp bandaranya seuprit banget. Udh waktunya diprbesar. Eh skr udah ada yg baru, walo sayangnya blm beroperasi penuh. Semoga ku ntr jg bisa ngerasain landing dan berangkat dari sana, jg naik KA bandaranya

    1. Bener mbak, Bandara Adi Sucipto udah penuh bangeeettt. Semoga nanti kalo mbak ke sini naik taksi, bandara baru udah jadi ya.

  22. Kenapa harus stasiun Wiji ya ??
    Lempuyangan/stasiun Tugu lebih strategis padahal.
    Aku belum jajal bandara baru Yogyakarta.
    Dengan moda transportasi kereta bandara sehingga perjalanan lebih nyaman dan tepat waktu

    1. Mbak Siti :((

      Stasiun Wojo itu stasiun terdekat dari bandara, mbak. Jadi rutenya adalah Yogyakarta (Tugu) – Wojo. Bandara baru ini jauh, di pesisir Kulonprogo, udah mau perbatasan Purworejo.

  23. Totalnya jadi berapa lama perjalanan dari Sta Tugu sampai Bandara YIA ya? Kemungkinan Maret nanti mau ke Lombok dari Jogja, kalau brgkt via YIA berarti akan mengakses KA Bandara ini..hehe..

    1. Kurang lebih 1 jam mbak totalnya. Selamat mencoba ya 🙂

Tinggalkan Balasan ke bukanrastaman Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Khairunnisa Siregar's

Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap Perjalanan Punya Cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Travel Vlogger Indonesia

Travel Vlogger Indonesia, menginspirasi lewat travel vlog Indonesia, berbagi informasi liburan dan vlog jalan jalan!

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: